Penutupan Selat Hormuz Picu Kenaikan Biaya Impor BBM di Indonesia
Ruang Bangsa - Liputan6.com, Jakarta - Iran menutup akses Selat Hormuz, simpul perdagangan global imbas memanasnya perang dengan Amerika Serikat (AS). Hal tersebu disinyalir akan berdampak pada kenaikan biaya angkut atau impor Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Indonesia.
Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO), Anggawira menyebut Selat Hormuz merupakan akses penting perdagangan global, termasuk arus pengiriman komoditas energi. Penutupannya akan berdampak langsung kepada BBM dan Liquified Natural Gas (LNG) yang diimpor Indonesia.
BACA JUGA: AS Akan Blokir Akses Maskapai Iran untuk Mendarat dan Isi Bahan Bakar
“Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan hampir sepertiga perdagangan LNG global melewati Selat Hormuz. Setiap eskalasi di kawasan tersebut akan berdampak langsung terhadap lonjakan harga energi global, termasuk biaya impor BBM dan LNG Indonesia yang saat ini masih cukup tinggi,” ujar Anggawira dalam keterangan resminya, Senin (2/3/2026).
Dia mencatat, 50 persen BBM RI didapat dari impor. Maka, penutupan Selat Hormuz memperberat risiko inflasi pada perekonomian nasional imbas terkereknya harga energi global. Kenaikan harga minyak mentah global berpotensi meningkatkan tekanan terhadap APBN, khususnya pada pos subsidi dan kompensasi energi.
Di sisi lain, ASPEBINDO menilai potensi kenaikan harga LNG di pasar spot Asia akibat konflik global akan berdampak langsung terhadap biaya pokok penyediaan listrik nasional. Mengingat sebagian pembangkit listrik di Indonesia masih bergantung pada pasokan LNG impor berbasis harga pasar.
"Dalam situasi geopolitik global yang semakin tidak menentu, HIPMI dan ASPEBINDO menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah antisipatif guna menjaga stabilitas energi nasional dan melindungi daya tahan sektor industri," ucap Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ini.
Iran Tutup Selat Hormuz
Sebelumnya, Iran dilaporkan mengambil langkah untuk menutup Selat Hormuz menyusul serangan rudal yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu.
Kapal-kapal di kawasan Teluk sudah menerima siaran radio frekuensi tinggi dari Garda Revolusi Iran yang memperingatkan bahwa kapal tidak akan diizinkan melintasi jalur perairan strategis tersebut.
Akses Buat 20 Persen Minyak Dunia
Perbesar




