IHSG Anjlok 2,29% di Pembukaan Perdagangan Akibat Ketegangan Geopolitik
Ruang Bangsa - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. Pada Senin, 2 Maret 2026, IHSG dibuka anjlok sebesar 2,29 persen, berada pada level 8050.
Penurunan IHSG ini sejalan dengan pergerakan indeks unggulan lainnya, seperti JII dan LQ45 yang juga mengalami penurunan. JII tercatat ambruk 1,70 persen, sementara LQ45 merosot 2,08 persen.
Read Also
IHSG Hari Ini Senin 13 April 2026: Rekomendasi Saham dan Proyeksi Setelah Reli Sepekan
Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang memicu sentimen risk-off di pasar global. Serangan terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memperburuk situasi dan memicu kekhawatiran di kalangan investor.
Sejumlah saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, ASII, dan TLKM turut mengalami penurunan. Di sisi lain, saham ANTM, PGAS, JPFA, dan MDKA justru menunjukkan kenaikan pada pembukaan perdagangan.
Rully Arya Wisnubroto, Head of Research and Chief Economist Mirae Asset, memperkirakan bahwa tekanan jual akan mendorong koreksi di pasar saham Indonesia. Hal ini berpotensi memicu arus keluar dana asing dari pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN).
Read Also
Harga Emas Antam Turun Rp 30 Ribu per Gram pada Rabu Ini
Menurutnya, Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan mengambil langkah-langkah stabilisasi yang lebih intensif untuk meredam volatilitas yang berlebihan. Intervensi diperkirakan akan dilakukan di pasar valuta asing, baik melalui pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta di pasar SBN untuk menjaga stabilitas yield.
Rully menambahkan bahwa eskalasi konflik AS–Iran meningkatkan risiko lonjakan harga minyak dunia dan memperburuk persepsi risiko global. Kondisi ini mendorong investor untuk mengalihkan portofolio ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas.
Beberapa risiko bagi Indonesia meliputi imported inflation akibat kenaikan harga energi global, potensi meningkatnya beban subsidi energi jika pemerintah menahan harga domestik, dan kemungkinan pelebaran defisit transaksi berjalan jika impor energi meningkat. Arus keluar portofolio asing juga berpotensi menekan nilai tukar Rupiah dalam jangka pendek.
Pelaku pasar saat ini mencermati perkembangan lebih lanjut dari konflik geopolitik dan respons kebijakan otoritas moneter domestik dalam menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
Sementara itu, pergerakan saham global menunjukkan variasi pada penutupan akhir pekan lalu. Bursa saham Amerika Serikat ditutup di zona merah setelah data inflasi produsen melampaui ekspektasi pasar dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak perkembangan kecerdasan buatan (AI) terhadap dunia kerja.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,05% ke level 48.977,92, sedangkan S&P 500 terkoreksi 0,43% menjadi 6.878,88. Indeks VIX naik 6,60% ke posisi 19,86.
Inflasi tingkat produsen (Producer Price Index/PPI) di AS pada Januari 2026 naik 0,5% secara bulanan (mom), lebih tinggi dari revisi bulan sebelumnya sebesar 0,4% dan melampaui konsensus pasar 0,3%. Inflasi inti produsen di luar komponen energi dan makanan melonjak 0,8% mom, di atas proyeksi 0,3%, memicu kekhawatiran tentang tekanan harga yang masih bertahan.
Kekhawatiran terhadap disrupsi AI terhadap pasar tenaga kerja kembali mencuat setelah perusahaan fintech Block mengumumkan PHK terhadap sekitar 4.000 karyawan. Langkah ini memicu spekulasi tentang efisiensi berbasis teknologi yang semakin agresif dilakukan korporasi global.
Di sisi lain, bursa Eropa dan Asia mencatatkan kinerja positif. Indeks FTSE 100 Inggris naik 0,59% ke level 10.910,55, sementara Nikkei Jepang menguat tipis 0,16% ke 58.850,27.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah naik 2,78% ke USD67,02 per barel, dan harga emas melonjak 1,81% ke level 5.278,93. Logam industri juga menguat, dengan timah naik 6,10% dan perak melonjak 6,21%.
Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik tipis ke 6,43%, sementara premi risiko Indonesia yang tercermin dari CDS 5 tahun meningkat 3,51% menjadi 83,86.
ekonomi IHSG investasi pasar modal
Share
Related posts
06 Mar 2026
Cuaca Besok Surabaya 7 Februari 2026: Mayoritas Berawan, Waspada Potensi Petir
06 Apr 2026
Insiden Pelemparan Bus Borneo FC Nodai Laga Lawan Madura United
06 Mar 2026
VinFast Pasok 20 Ribu Mobil Listrik ke Perusahaan Transportasi
07 Apr 2026
Atlet Dinamo Deli Inline Skate Raih Medali di Pekanbaru Open 2026
03 Mar 2026
Chandra Asri Tingkatkan Efisiensi Distribusi Energi dengan CFS
06 Apr 2026
Bhayangkara FC Raih Enam Kemenangan Beruntun di Liga 1
No Comments
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *
Comment *
Name *
Email *
Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.




