Pemetaan Kerawanan Sosial oleh BIN Menjelang Nyepi dan Idul Fitri di Bali
Ruang Bangsa - DENPASAR, NusaBali.com - Menjelang pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 pada 19 Maret 2026 yang berdekatan dengan momentum Idul Fitri 1447 Hijriah, Badan Intelijen Negara melalui Badan Intelijen Negara Daerah Bali memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kerawanan sosial.
Tiga daerah yang mendapat perhatian khusus yakni Denpasar, Buleleng, dan Jembrana karena dinilai memiliki potensi gesekan akibat dinamika aktivitas masyarakat saat hari raya. Kepala Bagian Operasi Binda Bali Teddy M. Budiman mengatakan pemetaan tersebut dilakukan sebagai bagian dari fungsi intelijen dalam melaksanakan lidpangal atau penyelidikan, pengamanan, dan penggalangan terhadap berbagai potensi kerawanan yang dapat muncul di masyarakat.
“Sesuai dengan fungsi kami Badan Intelijen Negara dalam melakukan lidpangal (penyelidikan, pengamanan, dan penggalangan) di beberapa daerah, kami telah menginisiasi turunan dari kesepakatan antara provinsi dengan FKUB dan masyarakat pemeluk agama Hindu dan Islam,” ujar Teddy dalam Rapat Koordinasi Penanganan Konflik Sosial di Denpasar, Senin (16/3).
Menurutnya, pada wilayah-wilayah yang dipetakan tersebut terdapat potensi kerawanan yang bisa muncul akibat kesalahpahaman aktivitas masyarakat non-Hindu saat pelaksanaan Nyepi, terlebih jika bertepatan dengan aktivitas keagamaan umat Islam menjelang Idul Fitri.
Teddy menjelaskan potensi konflik tersebut juga dapat dipicu oleh isu-isu sensitif yang berkembang di masyarakat, termasuk narasi bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang beredar di media sosial.
Karena itu, pihaknya berupaya membangun kesepahaman antara kelompok masyarakat agar pelaksanaan Nyepi maupun kegiatan keagamaan lainnya dapat berjalan dengan saling menghormati.
“Di beberapa daerah, khususnya di Jembrana, Buleleng, Denpasar, kami menginisiasi kegiatan yang pada intinya membangun konsensus antara perwakilan masyarakat Hindu dan Islam untuk sama-sama berpartisipasi dalam menjaga kekhidmatan pelaksanaan ibadah Nyepi dan malam takbiran sesuai dengan yang telah disepakati di tingkat provinsi,” ujarnya.
Selain potensi konflik sosial, Binda Bali juga mendeteksi kemungkinan meningkatnya kerawanan kriminalitas menjelang hari raya. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode mudik yang memicu kepadatan transportasi di sejumlah jalur utama.
Kondisi kemacetan yang terjadi di jalur mudik sejak beberapa hari terakhir juga menjadi perhatian karena berpotensi memunculkan berbagai persoalan sosial, termasuk penyebaran informasi negatif di media sosial.
Menurut Teddy, dinamika di ruang digital juga menjadi salah satu potensi ancaman yang perlu diwaspadai. Narasi provokatif atau kabar bohong yang tersebar di media sosial dapat memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Karena itu, tim intelijen melakukan pemantauan intensif terhadap berbagai akun yang berpotensi menyebarkan narasi negatif terkait perayaan Nyepi maupun aktivitas keagamaan lainnya. “Upaya yang telah dilakukan dan akan terus kami tingkatkan adalah meningkatkan kegiatan deteksi dini dan cegah dini melalui pemantauan situasi wilayah serta pengumpulan informasi oleh unsur intelijen dan aparat keamanan,” kata Teddy.
Ia menambahkan, langkah-langkah pencegahan juga dilakukan dengan menempatkan personel intelijen untuk memantau aktivitas kelompok-kelompok yang dinilai memiliki potensi memunculkan sikap intoleransi. “Kami menempatkan petugas-petugas yang disisipkan untuk bisa memonitor perkembangan dari kegiatannya, sehingga pergerakan dari kelompok-kelompok itu bisa terus kami waspadai,” ujarnya.
Setiap hasil pemantauan tersebut kemudian dilaporkan secara berkala dalam forum koordinasi Binda Bali. Informasi yang dihimpun juga disampaikan kepada aparat keamanan serta pemerintah daerah untuk memastikan langkah antisipasi dapat segera dilakukan.
Binda Bali juga terus menjalin koordinasi dengan unsur Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, serta Pemerintah Provinsi Bali guna menjaga stabilitas keamanan di wilayah yang berpotensi rawan.
Selain pendekatan keamanan, Binda Bali juga melakukan penggalangan terhadap berbagai tokoh masyarakat untuk memperkuat nilai toleransi dan keharmonisan antarumat beragama di Bali. “Dan yang tidak kalah penting adalah melakukan penggalangan terhadap tokoh agama, tokoh masyarakat, serta tokoh adat dalam menjaga toleransi dan keharmonisan antarumat beragama. Melalui sinergi ini diharapkan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Bali tetap terjaga,” tandas Teddy. *tra




