NOC Indonesia Usulkan Perubahan Regulasi untuk Pastikan Timnas Sepakbola Tampil di Asian Games 2026
Sumber Foto: gosumbar.com
Olahraga

NOC Indonesia Usulkan Perubahan Regulasi untuk Pastikan Timnas Sepakbola Tampil di Asian Games 2026

Ruang Bangsa - JAKARTA - Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia) memastikan tidak akan tinggal diam menyikapi ancaman absennya Tim Nasional (Timnas) Sepakbola Indonesia di ajang Asian Games 2026. Ketua NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari menyampaikan hal tersebut kepada wartawan di Jakarta, Jumat (20/2/2026).

Okto, panggilan karibnya, berjanji akan melakukan upaya diplomasi untuk melawan regulasi baru yang dinilai janggal dan merugikan kedaulatan olahraga negara-negara Asia. Hal itu juga sudah disampaikan Okto kepada Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Erick Thohir.

Seperti diketahui Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) dan Dewan Olimpiade Asia (OCA) memunculkan kebijakan baru. Keduanya sepakat membatasi kepesertaan hanya bagi negara yang lolos ke Piala Asia U-23 2026 dan Piala Asia Wanita 2026.

Dengan adanya kebijakan itu, peluang timnas sepakbola Indonesia akan terancam untuk berlaga pada ajang pesta olahraga empat tahunan negara Asia yang akan digelar di Nagoya, Jepang, pada 19 September hingga 4 Oktober 2026.

Menurut Okto, format pembatasan tanpa proses kualifikasi terbuka ini sebagai hal yang tidak lazim dalam tradisi pesta olahraga multievent sebesar Asian Games. "Secara informal saya laporkan kepada Menpora bahwa kami, NOC, sudah menyikapi apa yang dilakukan oleh OCA. Biasanya di Asian Games itu kan semuanya ikut," katanya.

Okto juga menyoroti minimnya sosialisasi terkait perubahan mendadak ini. Ia mempertanyakan apakah kebijakan tersebut diambil karena keterbatasan tuan rumah atau faktor teknis lainnya. Namun, ia menekankan bahwa setiap aturan harus berlandaskan prinsip keadilan (fairness).

Dijelaskan Okto, membatasi peserta sepakbola adalah langkah kontraproduktif. Pasalnya, cabang olahraga ini memiliki basis massa terbesar yang menjadi daya tarik utama dan "nyawa" dari setiap penyelenggaraan ajang olahraga internasional.

​Dalam perjuangannya ini, NOC Indonesia tidak bergerak sendirian. Komunikasi intensif terus dijalin dengan Presiden OCA serta komite olimpiade negara-negara Asia lainnya yang merasakan dampak serupa. "Dukungan dari Menpora juga menjadi modal penting bagi kami untuk mendesak peninjauan ulang atas kebijakan tersebut," tegasnya.

​Okto menegaskan bahwa tuan rumah maupun konfederasi tidak boleh bertindak semena-mena dalam menentukan regulasi tanpa mempertimbangkan aspirasi federasi negara peserta. Untuk itu, pihaknya berkomitmen untuk terus menyuarakan keberatan ini agar marwah kompetisi tetap terjaga dan inklusif bagi seluruh anggota.

"Banyak pertimbangan yang harus dilihat dan kami akan terus menyuarakan ini bersama federasi negara lain di Asia," tandasnya. ***