Hologram Hadirkan Nenek dalam Momen Lebaran di Ruang Tamu
Ruang Bangsa - MALANG – Pemandangan itu mungkin akan jadi biasa beberapa tahun ke depan. Sebuah keluarga berkumpul di ruang tamu, lengkap dengan sajian ketupat dan opor Lebaran di meja. Di kursi kosong yang biasa diduduki nenek, tiba-tiba muncul sosoknya. Bukan dalam bingkai layar datar, melainkan dalam wujud tiga dimensi yang bisa dilihat dari berbagai sudut.
Nenek kemudian tersenyum. Dia mengangkat tangan, dan berkata, "Maaf enggak bisa pulang tahun ini, Nak. Tapi lihat, Nenek 'ada' di sini, kan?"
Skenario ini bukan lagi cerita fiksi ilmiah. Di tahun 2026, teknologi hologram yang sebelumnya hanya terlihat di panggung konser atau pameran teknologi, mulai merambah ke ruang-ruang keluarga. Dan momen Lebaran menjadi ajang uji coba paling emosional.
Dari Panggung Konser ke Ruang Tamu
Sebenarnya, teknologi hologram untuk menghadirkan sosok yang jauh secara fisik sudah lama dikembangkan. Di ajang Consumer Electronics Show (CES) pada Januari 2026 lalu di Las Vegas, beberapa perusahaan memamerkan inovasi yang membuat hologram semakin terjangkau untuk penggunaan pribadi.
Salah satu yang menarik perhatian adalah teknologi display holografik yang tidak memerlukan kacamata khusus. Looking Glass memamerkan layar Hololuminescent Display (HLD) berukuran 86 inci yang bisa menampilkan sosok manusia dalam bentuk tiga dimensi, seakan-akan orang tersebut benar-benar berdiri di ruangan yang sama.
Bayangkan jika teknologi ini digunakan untuk silaturahmi Lebaran. Seorang perantau di Tokyo bisa "duduk" di ruang tamu rumahnya di Padang. Anak yang studi di Jerman bisa "bersalaman" dengan ibunya di Jakarta. Semua terjadi secara real-time, dengan gerakan yang alami dan tatapan mata yang terasa nyata.
Hologram Itu Membuat Ibu Menangis
Kisah nyata mulai bermunculan. Seorang pengguna teknologi ini, sebut saja Rina (32), bercerita tentang pengalamannya menggunakan layar hologram portabel untuk "mudik" tahun lalu.
"Aku kerja di London dan sudah tiga tahun enggak bisa pulang. Tahun lalu, aku nebeng teman yang punya perangkat hologram. Pas Lebaran, aku 'duduk' di ruang tamu rumah, dan ibu bisa melihat aku dalam bentuk 3D. Ibu sampai nangis karena katanya beda banget sama video call biasa," ujar Rina.
Perangkat yang digunakan Rina sebenarnya bukan hologram canggih seperti di film-film, melainkan kombinasi layar transparan dan teknik pencahayaan yang menciptakan ilusi tiga dimensi. Tapi efeknya luar biasa.
"Saat video call, ibu selalu bilang, 'kamu di dalam hp terus'. Tapi dengan hologram, dia bisa lihat aku dari samping, dari depan, dan aku bisa 'menunjuk' makanan di meja. Rasanya lebih dekat," tambahnya.
Sebenarnya, ide pertemuan virtual untuk momen Lebaran sudah pernah dicoba secara resmi. Tahun 2022, Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri menggelar halalbihalal di metaverse. Para pegawai negeri hadir sebagai avatar dalam sebuah amphitheater digital dan mendengarkan ceramah Ustaz Das'ad Latif.
Dirjen Otda Kemendagri saat itu, Akmal Malik, menjelaskan bahwa kegiatan ini bisa mengefisienkan waktu dan tempat, terutama bagi PNS yang sedang cuti atau mudik di berbagai pelosok negeri.
Nah, hologram adalah evolusi dari konsep itu. Kalau metaverse masih memerlukan headset dan avatar yang kadang kaku, hologram menghadirkan sosok asli dalam bentuk tiga dimensi. Tidak perlu dunia virtual, cukup ruang tamu yang sudah ada.
Teknologi yang Kian Terjangkau
Pertanyaan besarnya: mahal, kan?
Memang. Untuk kualitas panggung konser seperti hologram Tupac di Coachella 2012 yang memakan biaya ratusan ribu dolar, belum terjangkau untuk rumah tangga biasa. Tapi teknologinya berkembang cepat.
Sekarang, sudah ada perangkat seperti Project AVA dari Razer yang diperkenalkan di CES 2026. Perangkat itu sebenarnya adalah asisten AI berbentuk hologram animasi berukuran 5,5 inci yang bisa menemani pengguna di meja kerja
Memang untuk komunikasi antarmanusia, ukuran itu terlalu kecil. Tapi ini menunjukkan bahwa teknologi holografik sedang diminiaturisasi dan diturunkan harganya.
Untuk keperluan keluarga, beberapa perusahaan mulai menawarkan layar holografik berukuran sedang dengan harga yang mulai terjangkau oleh kelas menengah atas. Sebuah laporan pasar memperkirakan pasar hiburan hologram akan tumbuh 22,5 persen hingga tahun 2033, didorong oleh makin murahnya komponen dan makin matangnya teknologi rendering.
Haru dan Rindu yang Tertunda
Yang menarik, para pengguna teknologi ini tidak hanya melihat hologram sebagai pengganti mudik fisik. Mereka menyebutnya sebagai "obat penunda rindu" ketika mudik benar-benar tidak memungkinkan.
Harus diakui, teknologi ini tidak bisa menggantikan pelukan hangat ibu saat Lebaran. Tapi setidaknya, "rasa ditinggal" saat Lebaran terobati sedikit.
Tentu, teknologi ini belum sempurna. Tantangan terbesar adalah kualitas jaringan internet. Untuk mengirimkan data tiga dimensi secara real-time, dibutuhkan bandwidth besar dan latensi rendah. Di kota besar, ini mungkin bisa diatasi. Tapi di daerah dengan infrastruktur terbatas, hologram bisa tersendat-sendat atau pecah.
Selain itu, ada tantangan sosial yang membiasakan orang berinteraksi dengan "sosok" yang tidak benar-benar ada. Mungkin ada nanati orang tua yang merasa aneh saat pertama kali melihat anaknya dalam bentuk hologram. Ada yang menganggapnya seperti hantu, ada pula yang justru takut.
Tapi seiring waktu, ini bisa teratasi. Dulu orang juga risih bicara di depan webcam, sekarang sudah biasa.
Masa Depan yang Lebih Dekat
Para pegiat teknologi optimistis, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, perangkat hologram rumahan akan semurah televisi LED sekarang. Apalagi dengan integrasi kecerdasan buatan yang makin canggih, hologram tidak hanya menampilkan sosok, tapi juga bisa menangkap emosi, bahasa tubuh, dan merespons secara alami.
Seperti ditulis dalam analisis tren AR/VR 2026, kita sedang menuju titik di mana dunia digital dan fisik benar-benar menyatu. Teknologi tersebut bukan untuk menggantikan yang nyata, tapi untuk memperkaya cara kita terhubung.
Bagi keluarga yang terpisah lautan dan benua, teknologi ini mungkin adalah jawaban atas doa yang selalu dipanjatkan setiap Lebaran: "Semoga tahun depan bisa kumpul lagi." Sambil menunggu tahun depan itu tiba, setidaknya ada hologram yang membuat "kumpul" terasa sedikit lebih nyata.
Esensi Lebaran bukan hanya soal berkumpul fisik. Tapi tentang kehadiran. Kehadiran dalam hati. Dan kini, mungkin nenek juga bisa hadir dalam bentuk tiga dimensi di ruang tamu kita.




