Kenangan AIWA: Dari Pusat Hiburan Keluarga ke Era Digital
Sumber Foto: Kompasiana.com
Ruang Utama

Kenangan AIWA: Dari Pusat Hiburan Keluarga ke Era Digital

Ruang Bangsa - Ada masa ketika kebahagiaan di rumah menyala dari sebuah tombol power. Satu sentuhan kecil pada panel tape, lalu lampu hidup, display menyala, dan dentuman bass perlahan memenuhi ruang tamu. Sejak detik itu, rumah terasa lebih hangat, lebih hidup, dan lebih berisi.

Di rumah kami, benda itu bernama AIWA NSX-380. Ia hadir dengan pemutar kaset, CD, radio FM, dan desain yang pada zamannya terlihat seperti mesin masa depan. Bentuknya gagah, wajahnya futuristik, tombol-tombolnya memancing rasa ingin tahu, dan kehadirannya langsung mengangkat wibawa sebuah ruang tamu.

AIWA punya pesona yang mudah dikenali. Harganya terasa masuk akal untuk banyak keluarga, tampilannya tetap berkelas, dan suaranya meninggalkan kesan yang sulit dilupakan. Di antara merek-merek yang beredar saat itu, AIWA terasa lebih berani, lebih modern, dan lebih dekat dengan impian kelas menengah yang ingin punya barang bagus tanpa harus meloncat terlalu jauh.

Hal yang membuatnya tinggal lama di ingatan adalah karakter suaranya. Bass-nya bulat, tebal, dan menghantam dada. Treble-nya jernih, tajam, dan melayang lama di kepala. Musik yang keluar dari speaker itu tidak lewat begitu saja. Ia memenuhi ruang, memantul di dinding, lalu menetap diam-diam di dalam ingatan.

Dari tape itulah saya akrab dengan banyak lagu. Salah satu yang paling membekas adalah Mata Indah Bola Pingpong dari Iwan Fals. Lagu itu diawali bunyi bola pingpong yang jatuh ke meja dan memantul berulang-ulang. Di AIWA itu, bunyi kecil tersebut terdengar sangat jelas, sangat dekat, dan terasa seperti sedang mengetuk pintu masa lalu.

AIWA memang pernah menjadi nama besar di dunia audio rumahan. Merek ini berdiri sejak 1951, tumbuh kuat di era 80-an dan 90-an, lalu dikenal luas sebagai produsen perangkat audio yang terjangkau dengan kualitas yang meyakinkan. Saat pasar berubah keras di akhir 90-an, AIWA melemah, diambil penuh oleh Sony, lalu tenggelam setelah gagal menemukan pijakan baru di era digital.

Perubahan zaman datang sangat cepat. Kaset mulai hilang dari rak. CD pelan-pelan tersisih. Musik pindah ke MP3, lalu ke ponsel, lalu ke aplikasi yang menaruh ribuan lagu dalam satu genggaman. Cara orang mendengarkan musik ikut berubah, dan bersama perubahan itu, ritual lama ikut menghilang.

AIWA kehilangan panggung ketika dunia mengecilkan musik ke dalam saku. Perangkat audio besar yang dulu menjadi pusat hiburan keluarga tersingkir oleh format digital yang ringkas dan serba cepat. Sony sempat mencoba menghidupkan kembali AIWA sebagai merek murah, lalu menghentikannya beberapa tahun kemudian. Nama AIWA kembali muncul, tetapi tidak berhasil mewakili jiwa yang diingat banyak orang di era lamanya.

Kemarin, saat saya pulang, saya melihat AIWA NSX-380 itu masih berdiri utuh. Tubuhnya masih kokoh, meski berdebu. Pemutar kasetnya masih utuh. Pemutar CD-nya masih utuh. Ia berdiri seperti penjaga rumah yang setia, diam, sabar, dan tetap menunggu seseorang datang untuk menyalakannya lagi.

Kaset dan CD memang sudah lama hilang. Rak-rak kecil tempat benda-benda itu dulu disusun rapi kini kosong, seperti halaman album yang fotonya dilepas satu per satu. Saya terdiam cukup lama, lalu tangan saya bergerak ke tombol yang masih membuka jalan pulang: radio FM.