Namun Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Balikpapan memilih pendekatan berbeda.
Yakni dengan mengandalkan kesadaran masyarakat sebagai kunci menjaga ketertiban.
Alih-alih Sweeping besar-besaran, aparat lebih mengutamakan dialog, pembinaan, dan patroli rutin.
Langkah ini dianggap sesuai dengan karakter Kota Balikpapan yang selama ini dikenal relatif tertib dan toleran.
Dengan begitu, Ramadan di Balikpapan berlangsung aman, nyaman, dan tetap produktif tanpa diwarnai operasi besar yang berpotensi menimbulkan keresahan.
Kepala Satpol PP Balikpapan Boedi Liliono, mengatakan bahwa tidak ada operasi khusus yang bersifat represif selama Ramadan.
“Pendekatannya persuasif. Kami ingin suasana Ramadan tetap nyaman, bukan menegangkan,” ujarnya saat dijumpai dalam sebuah kesempatan, Senin (23/2/2026).
Namun dia menegaskan, untuk penindakan dipastikan tetap ada, akan tetapi menjadi opsi terakhir jika pelanggaran dilakukan berulang.
Dia menjelaskan, tanpa razia, pengawasan tetap berjalan.
Aktivitas tempat hiburan, usaha malam, hingga rumah biliar tetap dipantau sesuai aturan jam operasional yang telah ditetapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan.
Pelaku usaha sebelumnya juga sudah menerima sosialisasi agar tidak kaget saat kebijakan diberlakukan.
Di lapangan, lanjut dia menerangkan, strategi ini berarti petugas lebih sering hadir melalui patroli preventif dibanding operasi mendadak.
Kehadiran aparat di lokasi yang dianggap strategis diharapkan cukup untuk mencegah potensi gangguan ketertiban.
Pendekatan ini juga menempatkan masyarakat sebagai aktor utama.
Itu karena ketertiban tidak semata mengandalkan penegakan hukum, tetapi juga sikap saling menghormati antarwarga selama Ramadan.
Meski demikian, Satpol PP tetap mengingatkan bahwa tindakan tegas bukan berarti dihapus. Jika imbauan diabaikan atau pelanggaran terus berulang, penindakan tetap akan dilakukan sesuai aturan. (*/adv/diskominfo/balikpapan)