Ruang Tamu Modern: Dari Kenangan Hangat Menjadi Museum Kesunyian
Ruang Utama

Ruang Tamu Modern: Dari Kenangan Hangat Menjadi Museum Kesunyian

"Dulu, ruang tamu adalah jantung dari sebuah persahabatan; tempat di mana rahasia dibagi dan kopi diseduh dengan doa. Kini, kita menukar keintiman itu dengan kenyamanan kursi kafe yang bisa disewa seharga secangkir latte." --- Adaptasi dari Zygmunt Bauman (Sosiolog "Liquid Modernity")

Sosiolog asal Polandia tersebut, dalam bukunya yang terbit di awal milenium kedua, sudah memetakan sebuah tesis yang menggetarkan bahwa masyarakat modern hidup dalam kondisi yang ia sebut sebagai Liquid Modernity atau modernitas cair.

Layaknya zat cair, perilaku kita menjadi sangat dinamis, tidak stabil, dan terus berubah mengikuti wadahnya. Salah satu "wadah" yang paling radikal perubahannya dalam dua dekade terakhir adalah cara kita melakukan anjangsana.

Dewasa ini, ruang tamu di rumah-rumah metropolis acapkali diibaratkan sebagai museum. Ia rapi, dingin, sunyi, dan tanpa jejak kaki selain penghuninya. Kehadiran tamu di sana menjadi peristiwa langka yang mungkin hanya terjadi setahun sekali, saat Lebaran atau Natal tiba.

Selebihnya, sofa empuk itu hanya menjadi saksi bisu debu yang menempel atau malah dialihfungsikan jadi ruang keluarga maupun toko dadakan. Penyebabnya beragam, mulai dari pola komunikasi gawai yang serba cepat hingga kesibukan yang merampas waktu untuk sekadar bertukar sapa secara fisik.

Namun, pengamatan saya selama hampir setahun tinggal di Flores memberikan kontras yang tajam. Di pedesaan Flores, tradisi "ke-Timur-an" ini menolak untuk luntur. Menerima tamu setiap hari adalah hal yang jamak, bahkan wajib. Simbol penerimaannya sangat sederhana namun sakral, yakni secangkir kopi (atau teh).

Di Flores, kopi bukan sekadar minuman, melainkan "kontrak sosial" dan simbol keterbukaan hati sang tuan rumah.

Kontras ini mengirimkan sinyal kuat bagi kita yang hidup di hutan beton metropolis, bahwa mungkin, menjamurnya warung kopi secara tidak sadar telah mengubah momen anjangsana menjadi sebuah komodifikasi dalam bertamu. Kita tidak lagi mengunjungi "orangnya", melainkan mengunjungi "tempatnya".

Infrastruktur Membentuk Perilaku

Baca juga: Kehilangan, Ruang Duka, dan Cinta yang Tersisa

Ada sebuah adagium sosiologis yang mengatakan bahwa arsitektur lingkungan akan membentuk perilaku penghuninya. Maraknya warung kopi, mulai dari Warung Pojok (Wapo) hingga kafe kelas atas di kota metropolis, telah menyediakan "titik tengah" bagi sebuah pertemuan. Di sinilah komodifikasi itu bekerja secara halus.

Di warung kopi, ada elemen pride atau gengsi yang terjaga melalui mekanisme pembayaran. Jika sebuah pertemuan bersifat kasual tanpa tendensi, maka split bill (bayar masing-masing) menjadi kesepakatan tak tertulis yang dianggap adil. Namun, jika ada kepentingan tertentu, sang perancang pertemuan biasanya akan membayar seluruh tagihan sebagai bagian dari "investasi" sosialnya.

You can share this post!