Selain mengandalkan kekayaan alam, Prabowo juga menekankan pentingnya pengembangan industri berbasis hilirisasi.
Ia menjelaskan, pemerintah kini fokus mengolah sumber daya alam di dalam negeri agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
Salah satu langkah konkret dilakukan melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, yang akan menginisiasi 18 proyek hilirisasi pada tahun ini. Termasuk di dalamnya proyek pengolahan sampah menjadi energi senilai Rp50,4 triliun atau setara USD 3 miliar.
“Kami terus bergerak di hilirisasi industri, di mana Danantara menjadi motor penggerak utamanya. Kami bergerak sangat cepat di sektor-sektor tersebut,” jelas dia.
Berdasarkan potensi tersebut, Prabowo berharap perusahaan asal Amerika Serikat tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi, tetapi juga sebagai basis produksi utama di Asia Tenggara.
Ia juga menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga iklim investasi melalui kepastian regulasi, penegakan hukum, serta tata kelola pemerintahan yang baik.
“Bagi pemimpin bisnis, kepastian adalah hal paling utama. Tidak ada yang mau investasi di situasi atau atmosfer yang dipenuhi ketidakpastian, ketidakstabilan, atau bahkan kekacauan,” pungkas Prabowo.