Pendekatan Budaya Dinilai Solusi Efektif Redam Konflik di Maluku Tenggara
Sumber Foto: Siwalima
Sosial

Pendekatan Budaya Dinilai Solusi Efektif Redam Konflik di Maluku Tenggara

Ruang Bangsa - AMBON, Siwalima.id - Praktisi Hukum, Rony Samloy menilai, penanganan konflik sosial yang berulang di Maluku Tenggara dan sekitarnya, tidak cukup jika hanya mengandalkan pendekatan represif aparat keamanan.

Menurutnya, diperlukan pendekatan dialogis berbasis kearifan lokal, khususnya nilai budaya “Ain Ni Ain” yang selama ini menjadi perekat masyarakat Kei dalam meredam konflik.

“Pendekatan budaya harus diutamakan karena masyarakat Kei memiliki ikatan sosial yang kuat. Ini terbukti pada masa lalu ketika konflik sosial di Maluku dapat diredam dengan cepat,” usul Samloy, kepada Siwalima.id di Ambon, Rabu (1/4).

Ia juga mempertanyakan meningkatnya eskalasi konflik dalam tujuh tahun terakhir di wilayah Tual dan Maluku Tenggara. Padahal, nilai-nilai budaya lokal yang menekankan persaudaraan dinilai masih relevan untuk menyelesaikan persoalan.

Karena itu, dirinya mendorong agar penyelesaian konflik dilakukan melalui pendekatan sosial kemasyarakatan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari tokoh adat, pemerintah daerah, hingga aparat keamanan.

Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya sinergi antara TNI dan Polri untuk mengungkap akar persoalan yang diduga menjadi pemicu konflik.

Konflik yang terjadi tidak lepas dari persaingan pengaruh dalam distribusi narkotika dan obat-obatan terlarang di wilayah tersebut. bahkan perairan Tual dan sekitarnya kerap disebut sebagai salah satu jalur masuk peredaran narkoba dari Pulau Jawa ke Maluku.

“Jika benar ada kaitannya dengan jaringan narkotika, maka ini harus dibuka secara terang. Jangan sampai konflik hanya ditangani secara instan tanpa menyentuh sumber masalahnya,” cetus Samloy.

Ia juga minta, aparat penegak hukum memberikan penjelasan terbuka kepada publik guna menghindari spekulasi yang berkembang di masyarakat.

Penanganan konflik yang hanya bersifat sementara atau “pemadam kebakaran” tidak akan efektif jika akar persoalan tidak diselesaikan secara menyeluruh.

“Yang dibutuhkan saat ini adalah penanganan komprehensif agar mata rantai konflik bisa benar-benar diputus,” tegas Samloy. (S-25)