Dampak Pembingkaian Media terhadap Konflik Sosial
Ruang Bangsa - RRI.CO.ID, Ende - Di era banjir informasi, publik sering merasa telah memahami sebuah konflik hanya dari judul berita atau potongan video singkat. Padahal, yang dikonsumsi bukanlah realitas utuh, melainkan realitas yang telah dibingkai. Media massa—baik konvensional maupun digital—memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara pandang publik terhadap suatu peristiwa.
Ketika pembingkaian (framing) dilakukan secara bias atau sensasional, dampaknya tidak hanya berhenti pada kesalahpahaman, tetapi dapat meluas hingga meretakkan harmoni sosial. Konsep framing sendiri dijelaskan oleh Robert Entman sebagai proses menyeleksi aspek tertentu dari realitas untuk ditonjolkan dalam komunikasi.
Proses ini bertujuan membentuk definisi masalah, menentukan sebab, memberi penilaian moral, hingga menawarkan solusi. Dalam konteks konflik sosial, media kerap terjebak dalam pola “jurnalisme perang” (war journalism). Fokusnya cenderung pada konflik terbuka, kekerasan, serta dikotomi tajam antar kelompok.
Narasi seperti ini kemudian diperkuat di media sosial oleh konten-konten yang sering kali minim verifikasi dan sensitivitas dampak. Akibatnya, publik mudah terjebak dalam pola pikir “kami versus mereka”. Identitas seperti agama, suku, atau golongan terus disorot tanpa menghadirkan konteks damai. Hal ini berpotensi memperkuat polarisasi sosial.
Fenomena tersebut semakin diperparah oleh algoritma media sosial yang menciptakan ruang gema (echo chamber), di mana pengguna hanya terpapar pada informasi yang sejalan dengan keyakinan mereka. Studi oleh Merlyna Lim menunjukkan bahwa media sosial memiliki kekuatan besar untuk memobilisasi massa, namun juga berisiko memperdalam konflik jika tidak diimbangi dengan etika komunikasi yang kuat.
Salah satu pendekatan yang dapat ditempuh adalah menggeser paradigma menuju jurnalisme perdamaian (peace journalism). Konsep yang diperkenalkan oleh Johan Galtung ini menekankan bahwa media tidak hanya melaporkan konflik, tetapi juga memberi ruang pada solusi, dialog, dan dampak kemanusiaan dari semua pihak.
Jurnalisme perdamaian bukan berarti menyembunyikan fakta atau bersikap netral tanpa sikap. Sebaliknya, ini adalah upaya sadar untuk membingkai informasi secara konstruktif. Misalnya, alih-alih menonjolkan serangan antar kelompok, media dapat mengangkat upaya mediasi, dampak terhadap warga sipil, serta jalan keluar yang sedang diupayakan.




