New-collar jobs tanpa gelar sarjana. Office photo created by tirachardz
Parapuan.co - Kawan Puan, dulu banyak orang—mungkin termasuk kamu—dibesarkan dengan keyakinan bahwa gelar sarjana adalah satu-satunya tiket menuju kesuksesan dan hidup yang lebih baik. Tanpa ijazah, sulit membayangkan bisa mendapatkan pekerjaan stabil, gaji menjanjikan, dan jenjang karier yang jelas.
Namun, lanskap dunia kerja kini berubah drastis. Muncul sebuah kategori pekerjaan yang menantang asumsi lama tersebut, yaitu new-collar jobs. Istilah ini merujuk pada pekerjaan yang lebih mengutamakan keterampilan dibandingkan latar belakang akademik formal.
Artinya, kemampuan nyata dan pengalaman praktis kini sering kali lebih bernilai daripada sekadar selembar ijazah. Lantas, apa itu new-collar jobs dan bagaimana generasi sekarang bisa terjun ke jalur karier ini? Simak uraian yang dirangkum dari The Every Girl berikut:
Apa Itu New-Collar Jobs?
Konsep new-collar jobs pertama kali diperkenalkan oleh mantan CEO IBM, Ginny Rometty, pada 2016. Saat itu, industri teknologi berkembang begitu cepat sehingga kebutuhan tenaga kerja tak lagi bisa sepenuhnya dipenuhi oleh lulusan jalur akademik tradisional.
New-collar jobs berada di antara pekerjaan white-collar (kantoran berbasis gelar) dan blue-collar (pekerjaan fisik). Pekerjaan ini tidak menuntut gelar sarjana empat tahun, tetapi juga bukan pekerjaan kasar yang mengandalkan tenaga fisik.
Fokusnya ada pada:
Keahlian teknis spesifik (misalnya data, AI, cloud, keamanan siber)
Pengalaman praktik
Sertifikasi profesional
Soft skills seperti komunikasi dan problem solving
Kemauan untuk terus belajar
Sektor yang paling banyak membuka peluang new-collar antara lain teknologi, kesehatan, pemasaran digital, dan keamanan siber.
Mengapa New-Collar Jobs Semakin Populer?
Baca Juga: Masihkah Pekerjaan Remote-Hybrid Relevan di 2026? Ini Kata Ahli
1
2
3
Komentar
Sumber: The Every Girl
Penulis: Arintha Widya
Editor: Arintha Widya