Menteri Nusron: Hilangnya Ruang Hijau Penyebab Utama Banjir di Sumatera dan Aceh
Ruang Utama

Menteri Nusron: Hilangnya Ruang Hijau Penyebab Utama Banjir di Sumatera dan Aceh

Sociocultural

Menteri Nusron: Hilangnya Ruang Hijau Jadi Faktor Utama Banjir di Sumatera dan Aceh

3 Februari 2026 04:14 Diperbarui: 3 Februari 2026 04:14 96 0 0

+

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Lihat foto

Kompasiana | Jakarta --- Banjir besar yang kembali melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Aceh bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Pemerintah menilai bencana tersebut berkaitan erat dengan persoalan tata ruang, khususnya semakin menyusutnya kawasan hijau yang berfungsi sebagai daerah resapan air.

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menegaskan bahwa hilangnya vegetasi dan ruang terbuka hijau menjadi faktor utama meningkatnya risiko banjir di wilayah tersebut. Perubahan tata guna lahan yang tidak terkendali membuat kawasan yang semula berfungsi sebagai penyangga alami air hujan kehilangan perannya.

Menurut Nusron, pada masa lalu, pepohonan dan kawasan hijau berfungsi menahan dan menyerap air hujan sebelum mengalir ke sungai atau permukiman. Namun, seiring meningkatnya alih fungsi lahan, kemampuan alam untuk menampung air kian menurun. Akibatnya, debit air hujan yang tinggi langsung mengalir ke wilayah hunian dan memicu banjir dalam skala besar.

Ia menilai kondisi ini harus menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Setiap bencana, menurutnya, seharusnya diikuti dengan evaluasi kebijakan yang menyeluruh, terutama dalam hal penataan ruang dan perencanaan pembangunan. Tanpa pembenahan mendasar, risiko bencana serupa akan terus berulang.

Menteri Nusron menekankan pentingnya mengembalikan fungsi ruang yang semestinya menjadi kawasan hijau dan kawasan lindung. Ruang-ruang yang sebelumnya diperuntukkan bagi pepohonan, namun kini beralih fungsi, perlu ditata ulang agar daya dukung lingkungan tetap terjaga.

Ia juga mengingatkan bahwa kawasan hijau memiliki peran strategis dalam sistem mitigasi bencana. Tanah yang ditutupi vegetasi mampu menyerap air secara lebih optimal dibandingkan lahan terbangun. Ketika vegetasi hilang, kemampuan tanah menahan air ikut lenyap, sehingga banjir menjadi lebih mudah terjadi.

Ke depan, Kementerian ATR/BPN berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pemanfaatan ruang di wilayah Sumatera dan daerah rawan banjir lainnya. Evaluasi tersebut akan menjadi dasar perumusan kebijakan tata ruang yang lebih adaptif terhadap risiko bencana dan perubahan iklim.

Penataan ruang berbasis mitigasi bencana, menurut Nusron, harus menjadi prinsip utama pembangunan. Pembangunan yang mengabaikan keseimbangan lingkungan justru akan membawa kerugian jangka panjang bagi masyarakat. Dengan menjaga ruang hijau, pemerintah berharap risiko banjir dapat ditekan sekaligus menjamin keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Sociocultural Selengkapnya

Beri Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

KIRIM

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

TAG

iklimeval

evaluasi

penyebab banjir aceh dan sumatra

kebijakan

vox pop

You can share this post!