Ruang Bangsa - RRI.CO.ID, Denpasar- Penyuluh Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Kabupaten Badung , Ni Luh Ernawati,S.H., M.I.Kom.,menyoroti runtuhnya kehidupan sosial akibat hilangnya empati manusia. Fenomena ini ditandai dengan meningkatnya konflik, perilaku manipulatif, serta hilangnya rasa bersalah saat seseorang melakukan tindakan yang menyakiti orang lain demi keuntungan pribadi.
Ketika berbincang dalam program Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa,7 April 2026, Ernawati menyampaikan bahwa ketidakmampuan individu dalam memahami sudut pandang orang lain, menjadi akar penyebab terjadinya miskomunikasi dan ketidaksabaran dalam berinteraksi di lingkungan sehari-hari. Kondisi ini memicu sikap menghakimi yang membuat orang cenderung menjadi lebih kritis, kaku, serta sangat sulit memaafkan kesalahan kecil yang dilakukan oleh sesamanya.
Ernawati menjelaskan bahwa empati merupakan fondasi utama kepedulian sosial, yang mencakup kemampuan kognitif dan afektif untuk merasakan posisi orang lain. "Empati adalah fondasi dari kepedulian sosial yang menempatkan diri kita pada posisi orang lain, sehingga muncul respons yang penuh dengan kasih sayang," jelas Ernawati.
Ernawati menambahkan kurangnya rasa peduli terhadap penderitaan sesama, sering kali berkaitan erat dengan gangguan kepribadian tertentu, seperti narsistik maupun kecenderungan perilaku sosiopat. Seseorang yang kehilangan empati, secara sadar akan mengabaikan dampak emosional dari tindakannya, meskipun hal tersebut merugikan moralitas dan solidaritas sosial di sekitarnya.
Pengendalian diri melalui ajaran agama menjadi kunci utama untuk menjernihkan pikiran, agar manusia tidak terjebak dalam kegelapan ego yang menyesatkan. Tanpa adanya kontrol terhadap indra, manusia diibaratkan seperti kusir yang menunggangi kuda liar, sehingga sangat mudah terjatuh ke dalam jurang kehancuran hubungan interpersonal.
Ernawati menegaskan pentingnya menyeimbangkan antara ego dan kepedulian, agar keharmonisan dalam masyarakat dapat tetap terjaga dengan baik dan berkelanjutan. "Ketika ego mengalahkan empati, maka manusia akan kehilangan jati dirinya sebagai makhluk sosial yang seharusnya saling tolong menolong dalam kebaikan. Jadi sangat penting menyeimbangkan antara ego dan kepedulian" tutup Ernawati.