SUMBAWA BESAR, 12 November 2025 — Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Sumbawa bersama FPRB Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) di Kantor Desa Bugis Medang. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 12 November 2025, dan merupakan bagian dari penilaian ketangguhan pulau-pulau kecil di Kabupaten Sumbawa yang dilaksanakan selama tiga hari, yaitu dari 11 hingga 13 November 2025, mencakup Pulau Moyo dan Pulau Medang.
FGD ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk aparat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, perwakilan perempuan, perawat, pendidik, dan unsur keamanan. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana dan dampak perubahan iklim yang mungkin terjadi di pulau-pulau kecil.
Ketua FPRB Sumbawa yang diwakili oleh Sekretaris Yayat Cahyadi, SE, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan gambaran menyeluruh tentang ketangguhan pulau-pulau kecil, tidak hanya di Sumbawa, tetapi juga di seluruh NTB. "Dari hasil kajian ini, kita harapkan lahir gambaran menyeluruh tentang ketangguhan pulau kecil," ujarnya.
Tim FPRB melakukan kajian terhadap berbagai aspek ketangguhan, termasuk ekonomi, sosial, lingkungan, kelembagaan, dan infrastruktur. Hasil dari kajian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi kebijakan untuk mendukung adaptasi perubahan iklim, mitigasi bencana, serta pembangunan berkelanjutan di wilayah kepulauan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif BNPB yang bekerja sama dengan Pemerintah Australia melalui program "Siap Siaga", yang telah berkontribusi dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana, terutama setelah terjadinya gempa besar di NTB.
Yayat Cahyadi menambahkan bahwa pengalaman dari Pulau Bungin di Kabupaten Sumbawa dan Tramena di Lombok Utara yang lebih dulu dikaji akan menjadi dasar bagi strategi penguatan ketahanan di Pulau Medang. "Selama ini perhatian kita lebih banyak kepada wilayah daratan besar, padahal masyarakat di pulau-pulau kecil juga memerlukan dukungan dalam menghadapi ancaman bencana dan dampak perubahan iklim," jelasnya.
Melalui FGD ini, FPRB Sumbawa dan NTB berharap dapat menyusun peta ketahanan pulau kecil yang akan menjadi dasar bagi perencanaan pembangunan berkelanjutan. Langkah ini mencerminkan kolaborasi antara pemerintah daerah, BNPB, dan mitra internasional untuk memperkuat ketangguhan masyarakat di wilayah kepulauan.
Kepala Desa Bugis Medang, Suryanto, yang diwakili oleh Sekdes Abdul Razak, menyampaikan apresiasi atas kehadiran FPRB dan pihak-pihak yang mendukung kegiatan tersebut. "Ini adalah momentum penting bagi masyarakat Pulau Medang untuk mengenali potensi dan tantangan wilayahnya, agar kita lebih siap menghadapi risiko bencana di masa depan," ungkapnya.
Abdul Razak juga menjelaskan kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Bugis Medang, yang dihuni oleh 502 kepala keluarga yang tersebar di tiga dusun. Mata pencaharian utama mereka adalah nelayan dan petani, serta bergantung pada sektor wisata bahari dengan 22 kapal wisata yang beroperasi di perairan sekitar Pulau Medang dan Pulau Moyo, memberikan kesempatan kerja bagi warga setempat.
Namun, ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi, seperti abrasi pantai, keterbatasan fasilitas pendidikan, dan kesulitan kapal wisata untuk merapat ke dermaga akibat pendangkalan. "Jika kapal wisata bisa merapat langsung ke dermaga, tentu akan meningkatkan ekonomi warga. Kami berharap ada perhatian lebih terhadap hal ini," tandasnya.
Kegiatan FPRB ini diharapkan tidak hanya menghasilkan data dan analisis, tetapi juga langkah nyata untuk memperkuat ketangguhan masyarakat pulau.