Surabaya, RADAR SURABAYA – Keberadaan organisasi kemasyarakatan (ormas) yang dianggap meresahkan kembali menjadi sorotan di Surabaya. Forum Pemuda Surabaya menyampaikan pernyataan tegas menyusul viralnya video yang memperlihatkan seorang nenek berusia 80 tahun, Elina, diusir dari rumahnya oleh sekelompok orang yang diduga terkait ormas.
Aksi yang diikuti oleh sekitar 50 hingga 100 orang ini merupakan representasi suara pemuda dan warga Surabaya. Dalam aksi tersebut, mereka mendesak aparat penegak hukum, khususnya kepolisian, untuk segera mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku yang terekam dalam video yang telah menyebar luas di media sosial.
Koordinator lapangan aksi, Purnama, menegaskan bahwa kasus Nenek Elina mencerminkan puncak keresahan warga terhadap praktik premanisme yang mengatasnamakan ormas. “Ini adalah pernyataan sikap kami terkait apa yang terjadi pada Nenek Elina. Video kejadian itu sudah viral, wajah pelaku ada di mana-mana. Kami mendesak kepolisian segera mengambil sikap tegas dan menaikkan status hukum para pelaku,” tegasnya.
Purnama juga menyebutkan bahwa keberadaan ormas yang memiliki rekam jejak kekerasan dan intimidasi selama ini telah mencoreng rasa aman warga Kota Surabaya. Ia menambahkan, Surabaya sering kali menjadi lokasi berulangnya praktik premanisme, kriminalitas, serta tindakan tidak manusiawi yang kali ini menimpa seorang lansia.
Forum Pemuda Surabaya memberikan peringatan keras kepada aparat penegak hukum agar tidak ragu untuk bertindak. Mereka berpendapat bahwa ketegasan negara sangat diperlukan untuk mencegah potensi konflik horizontal di masyarakat. “Kami mendorong kepolisian untuk segera bertindak tegas. Kalau tidak ada langkah nyata, kami khawatir akan muncul reaksi spontan masyarakat yang bisa berujung pada main hakim sendiri,” imbuh Purnama.
Dalam pernyataan sikap tersebut, Forum Pemuda Surabaya mengemukakan tiga tuntutan utama. Pertama, mengusut tuntas kasus dugaan pengusiran terhadap Nenek Elina hingga ke akar persoalan. Kedua, membubarkan ormas yang terindikasi menjalankan praktik premanisme dan meresahkan warga. Ketiga, mendesak pemerintah pusat untuk memperketat perizinan serta pengawasan terhadap keberadaan ormas.
“Kami menuntut keadilan bagi Nenek Elina. Negara tidak boleh kalah dengan premanisme. Surabaya harus tetap menjadi kota yang aman, beradab, dan menjunjung tinggi kemanusiaan,” tutup Purnama.