Kominfo 11:14 WIB 362
PELAKSANA Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Lisdyarita mengungkapkan kebanggaannya ketika bertemu Steefanny Kinky Henandita di Pringgitan, Rabu (24/12/2205). Ya, Steefanny adalah atlet jujitsu asal Ponorogo peraih medali perunggu Southeast Asian Games (SEA Games) atau Pesta Olahraga Asia Tenggara XXXIII 2025 di Thailand.
Bunda Lis –sapaan Lisdyarita– menyebut prestasi gemilang Steefanny yang bertanding di kelas Woman’s Fighting (52 kilogram) telah mengharumkan nama Ponorogo. Bersamaan itu, menjadi teladan dan menginspirasi pemudi sebayanya. “Juga membuktikan bahwa pemuda dan pemudi Ponorogo memiliki potensi besar untuk berprestasi di tingkat nasional maupun internasional apabila mendapat pembinaan dan dukungan berkelanjutan,” kata Bunda Lis.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo siap memfasilitasi agar muncul Steefanny-Steefanny lainnya. “Akan muncul prestasi-prestasi yang tidak hanya milik pribadi, tetapi menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Ponorogo,” terang Bunda Lis.
Dalam kesempatan yang sama, Bunda Lis menyerahkan bonus tunai senilai Rp 10 juta kepada Steefanny. Kendati nominal reward itu tidak begitu besar namun wujud kepedulian pemerintah dalam mengapresiasi atlet berprestasi. “Jangan lihat nilainya, intinya kami siap mendukung generasi muda di Ponorogo untuk bangkit dan berprestasi,” tegasnya.
Bunda Lis juga mengajak induk cabang olahraga, pelatih, dan masyarakat bersatu padu melahirkan atlet-atlet unggulan Ponorogo di masa depan. Pun, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Ponorogo sudah menunjukkan perannya dalam mengelola, membina, mengembangkan, dan mengkoordinasikan semua kegiatan olahraga prestasi. “Saya mohon support dan doanya agar semakin banyak pemuda dan pemudi hebat Ponorogo yang berprestasi di bidang olahraga,” harapnya.
Di sisi lain, Steefanny Kinky Henandhita membagikan kisah perjuangannya sebelum meraih medali perunggu SEA Games 2025. Training camp (TC) nasional selama tiga bulan dirasanya terlalu singkat sehingga berpengaruh terhadap kesiapan fisik dan teknis. “TC SEA Games kemarin cuma tiga bulan dan itu menurut saya terlalu singkat,” ungkap Steefanny.
Dia harus menjalani diet ketat dan proses penurunan berat badan selama menjalani pemusatan latihan itu. Dalam waktu tiga minggu, Steefanny melakukan cutting weight hingga 10 kilogram. “Makanan sangat-sangat dijaga, terutama gula, minyak, dan tepung tidak boleh sama sekali. Waktu SEA Games saya cutting 10 kilogram, dari 62 kilo ke 52 kilo,” ujarnya.
Steefanny bertanding tiga kali dalam ajang SEA Games menghadapi atlet-atlet terbaik dari Thailand, Vietnam, dan Singapura di kelas fighting. Persaingan sedemikian ketat, terutama dengan atlet tuan rumah Thailand yang sudah lama menjadi rivalnya di level kejuaraan Asia dan dunia. “Yang terberat melawan atlet tuan rumah Thailand. Itu rival saya di World Champion dan Asian Regional, belum sempat ketemu karena sudah kalah sama Vietnam,” ungkap perempuan 23 tahun tersebut.
Steefanny mengaku berlatih jujitsu sejak kelas VI SD. Warga Pinggirsari itu sebenarnya menarget medali emas SEA Games. Namun, dia harus puas di posisi ketiga karena persiapan yang kelewat mepet. “Saya tetap bersyukur karena pertama kali ikut SEA Games dan langsung dapat perunggu,” akunya.
Steefanny menitip pesan ke atlet-atlet muda Ponorogo agar tidak mudah menyerah. Sebab, semangat pantang menyerah adalah modal besar untuk menjadi atlet profesional. “Tetap berlatih serius, jangan mudah patah semangat. Ketika kalah bertanding, tetap coba bangkit lagi dengan memperbaiki kekurangan,” ucapnya.
Dia merasa mendapat kehormatan ketika bertemu langsung Bunda Lis di Pringgitan. Apalagi, pulang dengan membawa bonus. Namun, dia mengharapkan tersedianya fasilitas latihan yang representatif untuk mendukung prestasi atlet. “Pengurus cabang jujitsu Ponorogo sedang membangun padepokan yang prosesnya masih 50 persen,” pungkasnya. (kominfo/mey)