Warga Sukahaji Menolak Penggusuran: Perjuangan Mempertahankan Ruang Hidup
Forum Warga

Warga Sukahaji Menolak Penggusuran: Perjuangan Mempertahankan Ruang Hidup

Konflik di Kampung Sukahaji

Konflik yang melanda warga Kampung Sukahaji di Bandung bukan hanya sekadar masalah perebutan lahan, melainkan juga perjuangan untuk mempertahankan ruang hidup yang telah mereka rawat selama puluhan tahun. Tekanan yang dihadapi warga datang dalam berbagai bentuk, termasuk klaim sepihak, intimidasi, dan bahkan kekerasan terbuka. Salah satu insiden paling ekstrem adalah kebakaran yang meluluhlantakkan rumah-rumah warga, dengan penyebab yang hingga kini masih misterius.

Diskusi Mengenai Akar Konflik

Isu ini menjadi tema utama dalam diskusi bertajuk “Sukahaji Menolak Padam: Membaca Akar Konflik, Merawat Perlawanan” yang diadakan pada Sabtu, 20 April 2024. Diskusi tersebut menghadirkan berbagai narasumber, termasuk warga terdampak, mahasiswa pendamping, dan peneliti agraria. Forum ini memberikan ruang untuk menganalisis kasus Sukahaji lebih dalam, tidak hanya sebagai masalah legalitas, tetapi juga sebagai manifestasi ketimpangan struktural yang berdampak pada kehidupan masyarakat.

Pemahaman Agraria yang Menyeluruh

Ratu Tammi dari Agraria Research Center (ARC) Bandung menekankan bahwa agraria melibatkan relasi antara manusia dan sumber daya, yang mencakup tanah, air, udara, dan ruang hidup secara keseluruhan. Menurutnya, konflik agraria memiliki lapisan-lapisan yang saling terkait, dari intimidasi dan kekerasan di permukaan, hingga sengketa klaim kepemilikan dan kebijakan negara yang cenderung berpihak pada kepentingan modal.

Menanggapi Tekanan

Warga Sukahaji terus berjuang meskipun menghadapi berbagai tekanan. Felix, seorang pemuda setempat, menjelaskan bahwa konflik ini telah berlangsung sejak 2009 dengan klaim yang berulang. Insiden kebakaran pada tahun 2018 dan 2025 menjadi titik balik, memicu kesadaran kolektif di antara warga akan pentingnya mempertahankan hak hidup yang layak.

Solidaritas dan Dukungan Komunitas

Solidaritas di antara warga mulai tumbuh, tercermin dalam kegiatan trauma healing yang rutin diadakan di posko Sukahaji, terutama untuk anak-anak yang mengalami trauma. Forum-forum warga dibentuk secara organik, menjadi tempat untuk saling mendukung dan merumuskan strategi bertahan. Rasa kebersamaan di antara tetangga semakin menguat dalam menghadapi tekanan dari luar.

Peran Mahasiswa dalam Perjuangan

Mahasiswa juga berperan penting dalam perjuangan ini, tidak hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang berjuang. Zakky, perwakilan mahasiswa, menyatakan bahwa mereka hadir untuk mendampingi dan membantu warga, bukan semata-mata karena rasa kasihan.

Merebut Narasi dan Membangun Kemandirian

Kehadiran mahasiswa memperkuat advokasi hukum dan kampanye narasi, membantu warga untuk membalikkan stigma negatif yang selama ini melekat pada mereka. Melalui media sosial dan informasi alternatif, warga Sukahaji mulai membangun citra sebagai komunitas yang sah dan berdaulat atas tanah yang mereka tempati.

Simbol Perlawanan

Sukahaji kini tidak hanya dipahami sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai simbol perlawanan terhadap ketimpangan yang dilanggengkan oleh negara dan pasar. Dalam menghadapi gempuran kekuasaan dan kepentingan modal, warga Sukahaji menunjukkan bahwa solidaritas, keberanian, dan kebersamaan adalah fondasi utama untuk mempertahankan ruang hidup mereka.

You can share this post!