Ketegangan yang muncul antara RW 9 dan RW 12 di Perumahan Griya Shanta, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, terkait polemik tembok pembatas masih berlangsung. Dalam upaya mencari solusi, sejumlah warga RW 12 membentuk Forum Diskusi dan Komunikasi.
Koordinator Forum, Irawan Agus Satrijo, menekankan bahwa forum ini tidak bertujuan untuk menjadi alternatif tandingan, melainkan untuk membuka ruang dialog yang lebih transparan di tengah situasi yang dinilai kurang membuahkan hasil. “Kami ingin memberikan solusi alternatif kepada warga terkait masalah tembok barat,” ujarnya.
Irawan menjelaskan bahwa forum ini diharapkan dapat memperluas diskusi dan komunikasi, termasuk dengan Pemerintah Kota Malang dan pihak-pihak terkait lainnya. Ia menegaskan bahwa dialog menjadi kunci untuk menemukan solusi atas permasalahan yang ada. “Kalau tidak ada diskusi dan komunikasi, permasalahan ini akan terus berlanjut,” tambahnya.
Dalam diskusinya, Irawan juga mengangkat isu tentang tanda tangan penolakan terhadap jalan tembus yang sempat menjadi bagian dari proses hukum. Ia mencatat, tidak semua warga secara tegas menolak, dan ada yang merasa terpaksa menandatangani karena hubungan sosial. “Warga di sini sudah lama bersama, ada ikatan emosional, terutama di antara yang lebih tua,” ungkapnya.
Irawan menilai bahwa proses pembangunan kembali tembok belum sepenuhnya melibatkan semua warga. “Jika memang ada rembuk, seharusnya itu melibatkan seluruh warga,” katanya. Melalui forum ini, warga berharap dapat menyelesaikan polemik yang berkepanjangan dengan pendekatan musyawarah, demi terciptanya lingkungan yang lebih kondusif dan harmonis di RW 12 Griya Shanta.