BOGOR (06/10/2023) - Pemahaman generasi muda mengenai Wawasan Kebangsaan di Indonesia tercatat masih sangat rendah. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada tahun 2018 menunjukkan hanya sekitar 6,2% siswa yang mampu menjawab pertanyaan terkait wawasan kebangsaan dengan benar. Sementara itu, survei yang dilakukan oleh Litbang Kompas dan Pusat Studi Kebangsaan Indonesia (PSKI) pada tahun 2022 menunjukkan bahwa hanya 28,6% siswa yang memahami konsep Pancasila di ruang kelas, sedangkan 21,7% lainnya mengandalkan pemahaman tersebut melalui media sosial.
“Fakta-fakta ini tentunya sangat menyedihkan. Pemerintah berharap adanya tindakan nyata dalam upaya pembudayaan nilai-nilai Pancasila, serta implementasinya dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun ketahanan nasional,” ungkap Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan, dan Prestasi Olahraga Kemenko PMK, Gatot Hendarto, saat membuka pelatihan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) di kampus Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor pada Kamis (5/10/2023).
Dalam pelatihan dengan tema “Penguatan Nilai-Nilai Pancasila Menghadapi Infiltrasi Intoleransi di Kalangan Pemuda” tersebut, Gatot menegaskan bahwa bangsa Indonesia saat ini dihadapkan pada tantangan perubahan global, termasuk penetrasi nilai dan ideologi transnasional, serta perkembangan digitalisasi di era Industri 4.0 dan Society 5.0. Tantangan ini memerlukan penyesuaian dalam cara berpikir, bertindak, dan berperilaku di ranah digital.
“Kondisi ini menjadi paradoks, di mana Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna internet dan media sosial terbesar di dunia, mencapai 167 juta jiwa. Menurut We Are Social Report yang dirilis pada Februari 2023, rata-rata waktu berinternet mencapai 7 jam 42 menit per hari, dan waktu penggunaan media sosial mencapai 3 jam 18 menit per hari,” jelas Gatot.
Namun, ia menambahkan, ada kemunduran dalam pembangunan karakter di kalangan pengguna media sosial, yang ditunjukkan dengan adanya perilaku negatif yang masih muncul. Data dari Microsoft Indonesia News Center pada tahun 2021 menunjukkan bahwa Indeks Keadaban Digital Indonesia pada tahun 2020 berada di urutan ke-29 dari 32 negara, menjadikannya sebagai yang terburuk di Asia Tenggara.
Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI tahun 2023, terdapat 11.147 temuan hoaks di internet selama periode Agustus 2018 hingga Februari 2023, di mana 1.332 di antaranya terkait hoaks politik. Selain itu, sebanyak 20.453 konten yang berkaitan dengan terorisme dan radikalisme di media sosial telah diblokir, serta 600 akun atau situs radikal teridentifikasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) selama tahun 2022.
“Bisa dikatakan, banyak konten di media sosial yang tidak lagi berfokus pada penggalian nilai-nilai moral atau perilaku positif,” imbuh Gatot. Ia menekankan bahwa pemerintah melalui Kemenko PMK telah memulai dan terus mendorong implementasi aksi nyata Revolusi Mental dengan membudayakan Pancasila di media sosial.
“Dengan kolaborasi dan sinergi, kita akan terus mengkampanyekan Gerakan Peduli, Santun, dan Tertib Bermedia Sosial. Semoga kita dapat membentuk agen-agen strategis sebagai penggerak Revolusi Mental yang dapat memberikan manfaat besar bagi kemajuan bangsa,” harap Gatot, seraya mendorong para pemuda untuk meningkatkan partisipasi dan kepekaan terhadap pembangunan manusia dan budaya.
Kegiatan ini dihadiri oleh Founder Yayasan Visi Nusantara Maju, Yusfitriadi, serta mahasiswa ITB Vinus Bogor. Panitia pelaksana dan inisiator kegiatan Pelatihan GNRM, Ramdan Nugraha, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini dapat menghasilkan output yang mampu mengimplementasikan nilai-nilai toleransi dalam bingkai Pancasila.