WTO memangkas proyeksi pertumbuhan perdagangan barang dunia pada 2026. G20 bakal bahas penanganan tantangan global di Afrika Selatan.
Oleh Hendriyo Widi
09 Okt 2025 11:17 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Implementasi tarif impor baru Amerika Serikat bakal mempersuram perdagangan dunia pada 2026. Mempertimbangkan hal itu, Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO meramal volume perdagangan barang dunia pada 2026 hanya tumbuh 0,5 persen.
Dalam pembaruan ”Prospek dan Statistik Perdagangan Global” yang dirilis pada 7 Oktober 2025, WTO merevisi proyeksi pertumbuhan volune perdagangan barang dunia pada 2025 dan 2026. WTO menaikkan perkiraan pertumbuhan volume perdangan barang dunia pada 2025 menjadi 2,4 persen atau naik dari 0,9 persen pada perkiraan Agustus 2025.
Faktor pemicunya adalah fenomena front loading perdagangan sepanjang paruh pertama 2025. Baik importir maupun eksportir berupaya mempercepat mendatangkan dan mengirim barang untuk menghindari implementasi perubahan tarif impor baru AS.
Perdagangan Selatan-Selatan yang melibatkan mitra selain China juga tumbuh lebih cepat sebesar 9 persen. Selain itu, barang-barang terkait kecerdasan buatan (AI), termasuk semikonduktor, server, dan peralatan telekomunikasi, tumbuh 20 persen. Barang-barang itu mampu mendorong hampir separuh dari keseluruhan ekspansi perdagangan barang dunia.
Gangguan yang terjadi saat ini pada sistem perdagangan global merupakan seruan bagi negara-negara untuk bertindak dan menata kembali perdagangan.
Pada 2026, WTO meramal pertumbuhan perdagangan dunia bakal semakin melambat. Hal ini seiring dengan mendinginnya ekonomi global dan implementasi penuh dari tarif impor baru AS yang lebih tinggi.
WTO memangkas proyeksi pertumbuhan perdagangan barang dunia pada 2026 menjadi 0,5 persen. Dalam proyeksi sebelumnya, pertumbuhannya diperkirakan sebesar 1,8 persen.
”Setiap negara diharapkan mampu menjaga stabilitas sistem perdagangan multilateral berbasis aturan. Gangguan yang terjadi saat ini pada sistem perdagangan global merupakan seruan bagi negara-negara untuk bertindak dan menata kembali perdagangan,” kata Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala melalui siaran pers di Geneva, Swiss.
Pada medio September 2025, Badan Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD) menyebut, dunia tengah mengalami ”tektonik” perdagangan. ”Lempeng-lempeng” perdagangan dunia tengah dibentuk kembali di bawah tekanan.
Baca Juga Trump, WTO, dan ”Tektonik” Perdagangan Dunia
Kesepakatan tarif dasar atau umum telah dirusak. Tarif impor yang diterapkan negara-negara ekonomi besar, termasuk AS, telah melonjak dari rata-rata 2,8 persen menjadi lebih dari 20 persen per September 2025.
Rute perdagangan maritim juga mulai berubah. Sepanjang 2022-2024, pengalihan rute kargo laut telah menyebabkan jarak tempuh (dalam ton-mil) tumbuh lebih cepat ketimbang volume kargo.
Dalam periode itu, jarak tempuh tumbuh 0,1 persen menjadi 5,9 persen. Sementara, volume kargo tumbuh -0,3 persen menjadi 2,2 persen.
Pertemuan G20
Di tengah kondisi itu, para menteri perdagangan dan investasi negara-negara anggota G20, termasuk Indonesia, bakal bertemu di Gqeberha, Afrika Selatan. Mereka akan menghadiri Pertemuan Para Menteri Perdagangan dan Investasi (TIMM) G20 pada 9-10 Oktober 2025.
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso menuturkan, pertemuan itu menjadi forum strategis untuk membahas arah kebijakan perdagangan global dan penguatan sistem perdagangan multilateral. Forum tersebut juga menjadi momentum bagi RI untuk memperjuangkan kepentingan perdagangan nasional.
Baca Juga TRUMPolin Perdagangan
Terkait hal itu, RI akan menyampaikan pandangannya tentang tiga agenda prioritas Presidensi G20 Afrika Selatan di bidang perdagangan. Agenda pertama menyangkut prinsip perdagangan dan pertumbuhan inklusif serta penanganan tantangan global.
”Agenda kedua tentang kerangka perdagangan dan investasi untuk mendorong industrialisasi dan pembangunan berkelanjutan. Terakhir, perihal reformasi WTO termasuk dimensi perdagangan untuk pembangunan,” tuturnya melalui siaran pers, Rabu (8/10/2025) malam.
Di sela-sela forum itu, Budi juga akan melakukan pertemuan bilateral dengan sejumlah menteri perdagangan negara mitra, seperti Afrika Selatan, Australia, dan Uni Emirat Arab. Pertemuan tersebut bakal membahas penguatan hubungan ekonomi, baik secara bilateral maupun regional.
G20 merupakan forum kerja sama ekonomi internasional yang terdiri dari negara-negara maju dan berkembang. G20 beranggotakan 19 negara dan dua organisasi regional, yaitu Uni Eropa dan Uni Afrika. Ke-19 negara anggota G20 adalah Argentina, Australia, Brasil, Kanada, China, Perancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Korea Selatan, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Turki, Inggris, dan AS.
WTO perdagangan internasional kementerian perdagangan G20 tarif trump SDGs SDG08-Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi SDG07-Energi Bersih dan Terjangkau SDG14-Ekosistem Lautan SDG16-Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh utama
Kerabat Kerja
Penulis:
Hendriyo Widi
|
Editor:
FX Laksana Agung Saputra
|
Penyelaras Bahasa:
Hibar Himawan