Tantangan Gen Z Memasuki Dunia Kerja: Penurunan Lowongan dan Peningkatan Persaingan
Sumber Foto: Kompas.com
Lifestyle

Tantangan Gen Z Memasuki Dunia Kerja: Penurunan Lowongan dan Peningkatan Persaingan

Ruang Bangsa - JAKARTA, KOMPAS.com — Generasi Z atau Gen Z memasuki dunia kerja dalam lanskap ekonomi global yang dinamis dan penuh tekanan.

Data yang dipublikasikan World Economic Forum (WEF), mengungkap bahwa generasi yang lahir antara 1997 hingga 2012 ini menghadapi tingkat persaingan yang lebih tinggi dibanding pendahulunya, terutama dalam mengakses pekerjaan level awal.

Laporan tersebut mengutip temuan dari Randstad yang menganalisis 126 juta lowongan pekerjaan secara global serta mensurvei 11.250 responden talenta di berbagai negara.

Hasilnya menunjukkan, peluang kerja untuk posisi entry-level mengalami penyusutan signifikan dalam dua tahun terakhir.

Analisis Randstad mencatat, jumlah lowongan pekerjaan untuk posisi awal karier turun sebesar 29 poin persentase sejak Januari 2024.

Penurunan ini terjadi di tengah kebutuhan talenta yang tetap tinggi di berbagai sektor, sehingga memperketat kompetisi bagi pencari kerja muda.

CEO Randstad Sander van ’t Noordende mengatakan, generasi ini memasuki dunia kerja pada masa perubahan besar.

“Masuk ke dunia kerja pada masa perubahan besar. Meski percaya pada kemampuan mereka dan ambisi masa depan, Gen Z menghadapi gangguan teknologi dan ketidakpastian ekonomi,” ujar Van ’t Noordende dalam laporan tersebut.

Mobilitas karier lebih cepat

Selain menghadapi kompetisi yang meningkat, Gen Z juga menunjukkan pola mobilitas kerja yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Data Randstad memperlihatkan, dalam lima tahun pertama karier mereka, rata-rata Gen Z bertahan di satu posisi selama 1,1 tahun.

Angka tersebut jauh lebih singkat dibandingkan generasi milenial yang rata-rata bertahan 1,8 tahun pada tahap awal karier, generasi X selama 2,8 tahun, serta baby boomer selama 2,9 tahun pada fase yang sama.

Tingkat perputaran kerja yang lebih cepat ini menggambarkan kecenderungan Gen Z untuk terus mencari peluang baru. Namun, laporan itu juga menunjukkan perpindahan tersebut tidak selalu didorong oleh pencapaian karier ideal.

Hampir separuh responden Gen Z menyatakan bahwa pekerjaan pertama mereka tidak sesuai dengan bayangan mengenai “karier impian”. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara ekspektasi awal dengan realitas pasar kerja yang mereka hadapi.

Di sisi lain, sekitar dua dari lima Gen Z menyatakan mereka mempertimbangkan tujuan jangka panjang saat memutuskan untuk pindah pekerjaan.

Artinya, mobilitas yang tinggi tidak sepenuhnya bersifat impulsif, melainkan tetap mempertimbangkan arah karier.

Hambatan pendidikan dan latar belakang

Survei tersebut juga mengungkap faktor-faktor yang dianggap menghambat Gen Z dalam meraih pekerjaan ideal.

Sebanyak 40 persen responden Gen Z merasa pendidikan mereka, atau kekurangan dalam pendidikan, menjadi penghalang untuk mendapatkan pekerjaan impian.

Persentase ini lebih tinggi dibanding generasi milenial (39 persen), generasi X (34 persen), dan baby boomer (27 persen).

Selain faktor pendidikan, 40 persen Gen Z juga menyatakan bahwa latar belakang pribadi, termasuk faktor demografis atau tanggung jawab keluarga, membatasi kemampuan mereka untuk mengejar karier yang diinginkan.

Lihat Foto

Angka ini hampir dua kali lipat dibanding generasi baby boomer yang merasakan hambatan serupa.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi Gen Z tidak hanya bersifat struktural dalam bentuk berkurangnya lowongan entry-level, tetapi juga menyangkut persepsi diri dan akses terhadap peluang.

Adaptif terhadap AI, namun tetap cemas

Sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi digital, Gen Z menunjukkan tingkat adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang relatif tinggi.

Sebanyak 55 persen responden Gen Z menyatakan sudah menggunakan AI untuk membantu menyelesaikan masalah di tempat kerja. Angka ini lebih tinggi dibanding kelompok generasi lainnya.

Meski demikian, optimisme terhadap teknologi tersebut berjalan beriringan dengan kekhawatiran.

Sekitar 46 persen Gen Z mengaku khawatir terhadap dampak AI terhadap pekerjaan mereka, menjadikannya kelompok dengan tingkat kekhawatiran tertinggi dibanding generasi lain.

Data juga menunjukkan adanya perbedaan akses terhadap pelatihan AI berdasarkan gender.

Sebanyak 46 persen pria Gen Z melaporkan telah menerima pelatihan AI di tempat kerja, sementara hanya 38 persen wanita Gen Z yang menyatakan hal serupa.

Perbedaan ini mencerminkan adanya ketimpangan dalam pengembangan keterampilan teknologi yang dapat memengaruhi kesiapan kerja jangka panjang.

Tingkat pencarian kerja yang tinggi

Laporan tersebut juga mencatat tingkat pencarian kerja yang aktif di kalangan Gen Z. Sebanyak 54 persen responden Gen Z menyatakan sedang aktif mencari peluang kerja baru.

Sementara itu, hanya 11 persen yang berencana bertahan lama di posisi mereka saat ini.

Angka ini memperlihatkan dinamika tenaga kerja muda yang relatif cair. Di tengah keterbatasan lowongan kerja entry-level, Gen Z tetap menunjukkan kecenderungan untuk terus mengeksplorasi peluang baru.

Lihat Foto

Menurut Van ’t Noordende, kondisi ini memerlukan respons yang lebih kolaboratif dari pemberi kerja.

“Dalam kondisi kekurangan bakat (talent scarcity), pemberi kerja harus mengambil langkah untuk lebih baik menarik dan mempertahankan talenta muda. Ini berarti mengadopsi pendekatan kolaboratif, bekerja bersama generasi ini untuk menetapkan jalur karier yang inspiratif,” ujar dia.

Tantangan bagi perusahaan

Laporan World Economic Forum tersebut menyoroti sejumlah pendekatan yang dinilai relevan bagi perusahaan untuk merespons dinamika ini.

Pertama, perusahaan didorong untuk merancang jalur karier yang jelas dengan tahapan yang terukur, sehingga talenta muda dapat melihat arah perkembangan profesional mereka.

Kedua, investasi dalam pengembangan awal karier, termasuk pelatihan dan pembelajaran berbasis teknologi, dinilai penting untuk meningkatkan retensi karyawan muda.

Ketiga, penerapan metode pembelajaran modern yang memanfaatkan AI dan teknologi digital menjadi bagian dari strategi untuk menyesuaikan kebutuhan generasi digital native.

Langkah-langkah tersebut dinilai dapat membantu perusahaan dalam menghadapi tantangan pasar kerja yang semakin kompetitif, sekaligus menjawab ekspektasi Gen Z terhadap perkembangan karier.

Perubahan lanskap awal karier

Secara keseluruhan, data menunjukkan perjalanan awal karier Gen Z berlangsung di tengah tekanan ganda: berkurangnya lowongan entry-level dan meningkatnya ekspektasi terhadap keterampilan teknologi.

Meskipun generasi ini menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi terhadap kemampuan mereka serta ambisi masa depan, realitas pasar kerja yang kompetitif dan transformasi digital menghadirkan tantangan tersendiri.

Lihat Foto

Dengan rata-rata masa kerja 1,1 tahun dalam lima tahun pertama, tingginya angka pencarian kerja aktif sebesar 54 persen, serta penurunan 29 poin persentase lowongan entry-level sejak Januari 2024, lanskap awal karier Gen Z tampak berbeda secara signifikan dibanding generasi sebelumnya.

Laporan tersebut menegaskan bahwa perubahan ini terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi dan disrupsi teknologi yang lebih cepat dibanding periode-periode sebelumnya.

“Masuk ke dunia kerja pada masa perubahan besar,” ujar Van ’t Noordende, menggambarkan konteks yang melingkupi generasi ini.

Data dan temuan tersebut memberikan gambaran mengenai dinamika yang sedang berlangsung di pasar tenaga kerja global, khususnya bagi generasi termuda yang kini mulai mendominasi angkatan kerja.