Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe Menjadi Ruang Pemulihan Psikososial bagi Anak-anak Terdampak Banjir
Ruang Bangsa

Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe Menjadi Ruang Pemulihan Psikososial bagi Anak-anak Terdampak Banjir

Pada suatu hari, anak-anak tiba di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe dengan wajah ragu dan penuh ketidakpastian. Beberapa dari mereka menggenggam erat tangan teman, sementara yang lain menatap sekeliling dengan ekspresi asing. Sudah hampir dua minggu mereka terpisah dari pensil dan buku, serta tidak masuk ke ruang kelas. Banjir yang melanda telah mengubah segalanya, merendam rumah mereka dan meninggalkan jejak trauma yang mendalam.

Banjir besar yang melanda Aceh, termasuk Aceh Utara, tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga mengubah dinamika sosial dan psikologis, terutama bagi anak-anak. Banyak keluarga terpaksa mengungsi, dan di balik tenda-tenda pengungsian, anak-anak menyimpan rasa takut dan cemas yang sulit diungkapkan.

Untuk mengatasi dampak psikologis ini, Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe meluncurkan Program Pendampingan Psikososial bagi Anak-Anak Terdampak Banjir. Program ini berlangsung dari 20 hingga 27 Desember 2025 dan dirancang sebagai ruang pemulihan emosional yang aman dan bermakna.

Dengan tujuan untuk menciptakan kembali suasana positif, sekolah dibuka kembali bukan hanya sebagai bangunan, tetapi juga sebagai tempat bagi anak-anak untuk tersenyum, bermain, dan belajar tanpa rasa takut. Sebanyak 297 anak berpartisipasi dalam program ini, terdiri dari 207 anak dari Desa Bungkaih dan 90 anak dari Desa Blang Reuling, Kecamatan Sawang. Semua peserta merupakan anak-anak berusia antara 4 hingga 13 tahun yang terdampak langsung oleh banjir.

Untuk memastikan kenyamanan dan keselamatan, anak-anak dijemput dari lokasi pengungsian dengan bus sekolah. Perjalanan singkat ini menjadi langkah awal bagi mereka untuk mengatasi trauma. Setibanya di sekolah, mereka disambut hangat oleh pengurus OSIS dan para guru. Sapaan lembut serta pendampingan sejak awal kedatangan menjadi bentuk dukungan yang mereka terima.

Di sudut halaman sekolah, beberapa anak tampak terpaku, dengan bahu terangkat dan tangan yang menggenggam erat. Pandangan mereka yang menunduk menunjukkan bahwa mereka masih berada dalam ‘mode’ waspada, menandakan perlunya proses pemulihan yang lebih mendalam.

You can share this post!