Depok - Dalam Sarasehan I yang bertema "Asta Cita dan Kontribusi FOKAL IMM" yang berlangsung di Balai PPSDM Kemendikdasmen, Depok, pada 10-12 Juli 2025, Dr. Saleh Partaonan Daulay, mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, menekankan pentingnya integritas dan akhlak dalam politik. Ia menyatakan bahwa terjun ke dunia politik seharusnya bukan hanya untuk mengejar kekuasaan, melainkan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
"Jangan masuk politik hanya untuk kuasa. Masuklah dengan nurani. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah membentuk kita agar memperjuangkan nilai, bukan sekadar jabatan," ujarnya kepada peserta sarasehan.
Saleh, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Komisi VII DPR RI, membagikan pengalaman pribadinya ketika karya tulisnya, Manifesto Dakwah Pemuda Muhammadiyah, membawanya ke dunia parlemen. Namun, ia juga tidak menutup mata terhadap praktik politik yang merusak, seperti penggalangan dukungan dengan biaya yang sangat tinggi.
"Saya tahu ada yang ‘membeli’ dukungan hingga Rp4 miliar. Ini bukan politik, ini perusakan demokrasi," tegasnya.
Ia menekankan bahwa politik adalah arena yang penuh tantangan, di mana loyalitas antar kader bisa diuji. Oleh karena itu, para kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) diharapkan untuk selalu memegang teguh nilai-nilai gerakan dan etika perjuangan.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Fokal IMM Jawa Tengah, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, menggarisbawahi perlunya kesetaraan gender dan kualitas pendidikan sebagai dasar menuju visi Indonesia Emas 2045. Ia mencatat bahwa partisipasi kerja laki-laki mencapai 84%, sementara perempuan masih jauh di bawah angka tersebut, meskipun secara pendidikan perempuan lebih unggul.
"Ini adalah ketimpangan struktural yang perlu segera diatasi," ujarnya.
Zakiyuddin juga mengkritik kurikulum pendidikan yang ada saat ini, yang dinilai "unik tapi tidak menarik," sehingga berkontribusi terhadap penurunan kualitas pembelajaran di bidang sains dan matematika. Ia menyerukan agar IMM dan FOKAL IMM aktif dalam membangun narasi kebijakan nasional yang inklusif dan berkeadilan.
"Tanpa kepemimpinan yang konsisten dan berbasis nilai, Asta Cita hanya akan jadi dokumen indah tanpa jejak," tambahnya.
Dr. Andi Nurpati, M.Pd., mantan anggota KPU RI, menegaskan bahwa keterlibatan dalam politik tidak selalu harus melalui partai politik. Ia menyatakan bahwa kader IMM dapat berkontribusi di berbagai ruang, termasuk akademik dan lembaga independen.
"Saya masuk KPU tanpa rekomendasi Muhammadiyah, tetapi tetap membawa semangat IMM. Bahkan saya menempatkan kader Muhammadiyah di posisi strategis di KPU," ungkapnya.
Andi mendorong FOKAL IMM untuk lebih terorganisir dalam memetakan kader untuk memasuki ruang-ruang kebijakan publik, termasuk posisi Tenaga Ahli, Komisaris, Staf Khusus, dan pejabat birokrasi strategis. Ia mencatat bahwa meskipun IMM memiliki 80 daerah pemilihan, representasi kader IMM masih minim, sehingga perlu disiapkan kader untuk berbagai bidang, termasuk legislatif, birokrasi, pendidikan, dan dunia usaha.
"IMM harus memperluas pengaruhnya dan mendukung kader dalam proses pemilihan rektor di kampus-kampus Muhammadiyah. Kita memiliki potensi besar yang harus dimanfaatkan," pesan Andi.