Pada Minggu pagi, 6 November, anggota Religion Twenty (R20) menjalani sarapan bersama di Hotel Hyatt Regency, Yogyakarta. Setelah rangkaian acara pembukaan dan konferensi di Bali, forum yang berfokus pada dialog antaragama dalam kerangka G20 ini melanjutkan kegiatannya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah.
Sesuai dengan jadwal, rombongan R20 kemudian menuju Candi Mendut dan Candi Borobudur di Magelang. Dalam suasana sarapan, terlihat berbagai tokoh agama menikmati hidangan dengan penuh keceriaan. Sebelum menyantap makanan, seorang pendeta melakukan ritual doa sesuai tradisi, diikuti oleh seorang Rabi Yahudi dari Jerusalem yang melaksanakan puji syukur.
Setibanya di Candi Mendut, peserta R20 disambut oleh situs-situs bersejarah yang berkaitan dengan Buddha. Penulis berkesempatan berbincang dengan seorang biksu bernama Rahula dari Sri Lanka, yang merupakan seorang profesor di Universitas Peradeniya. Rahula berharap acara R20 ini dapat mendorong pembangunan lebih banyak sekolah yang mengedepankan hubungan antaragama.
Dalam percakapan tersebut, Rahula memberikan penilaian positif mengenai pluralitas di Indonesia, menyebutkan bahwa kondisi saat ini lebih baik dibandingkan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki pemahaman tentang keragaman dan tantangan yang ada di Indonesia.
Setelah diskusi singkat, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Borobudur. Sayangnya, pengelola candi memberlakukan aturan ketat terkait jumlah pengunjung yang diperbolehkan naik ke candi, sehingga hanya mereka yang belum pernah mengunjungi yang diprioritaskan.
Di sela-sela menunggu, penulis juga berbincang dengan Prof. Ahmet T. Kuru, seorang pakar Ilmu Politik dan Kajian Timur Tengah dari Universitas San Diego. Ia menekankan pentingnya melanjutkan dialog antarbudaya dan antaragama yang dihadirkan dalam acara R20.
Acara R20 menunjukkan keragaman partisipan dari berbagai belahan dunia, dengan berbagai latar belakang agama, termasuk Yahudi, Kristen, Katolik, Buddha, Sikh, dan Islam. Meskipun demikian, penulis mencatat bahwa belum ada perwakilan dari agama-agama lokal terlihat dalam acara tersebut, yang mungkin menjadi perhatian untuk inklusivitas lebih lanjut dalam dialog lintas iman.
Secara keseluruhan, R20 dapat menjadi forum yang nyaman bagi perbedaan dan memperluas jaringan antaragama. Meski terdapat kekhawatiran mengenai marginalisasi agama lokal, pesan-pesan yang disampaikan oleh para peserta R20 menekankan pentingnya kesadaran akan keberagaman dan perlunya upaya berkelanjutan untuk memupuk hubungan harmonis antaragama.
Haris Fatwa
Pegiat Moderasi Beragama di Islami Institute