Penutupan Selat Hormuz Berpotensi Ganggu Pasokan dan Harga Pupuk Global
Internasional

Penutupan Selat Hormuz Berpotensi Ganggu Pasokan dan Harga Pupuk Global

Ruang Bangsa - JAKARTA, KOMPAS.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memusatkan perhatian dunia pada Selat Hormuz, jalur pelayaran sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia.

Selat ini selama ini dikenal sebagai salah satu jalur energi paling penting di dunia, tetapi perannya tidak hanya terbatas pada perdagangan minyak dan gas.

Jalur ini juga menjadi rute vital bagi perdagangan pupuk global.

WIKIMEDIA COMMONS Peta Selat Hormuz.

Dampak penutupan Selat Hormuz berpotensi meluas ke berbagai sektor, termasuk rantai pasok pupuk dunia.

Harga Rajungan Melambung, Nelayan Lebih Sering Pulang Bawa Ikan Kembung

Artikel Kompas.id

Sejumlah analis memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga pupuk, menghambat pasokan bahan baku pertanian, dan menekan biaya produksi pangan di berbagai negara.

Jalur vital perdagangan pupuk dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu titik sempit perdagangan global yang paling strategis.

Selain menjadi jalur utama ekspor minyak dan gas dari negara-negara Teluk, kawasan ini juga memainkan peran penting dalam perdagangan pupuk, khususnya pupuk berbasis nitrogen seperti urea.

Menurut analisis Rabobank, dampak penutupan jalur ini terhadap pasar pupuk global bisa sangat besar. Laporan tersebut menyebutkan bahwa kawasan Teluk memiliki peran besar dalam ekspor pupuk dunia, terutama urea.

“Jika Selat Hormuz tertutup, dampaknya terhadap kompleks pupuk bisa sangat parah. Kompleks nitrogen, dan urea khususnya, akan menanggung beban terberat, mengingat pentingnya kawasan ini bagi ekspor global,” tulis Rabobank dalam laporannya.

Ilustrasi pupuk NPK.

Wilayah Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi pupuk berbasis nitrogen terbesar di dunia.

Negara-negara seperti Qatar, Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain memiliki kapasitas produksi besar serta mengekspor produknya ke berbagai pasar global.

Rabobank memperkirakan sekitar 45 persen ekspor pupuk urea dunia berasal dari kawasan ini, sehingga setiap gangguan pada jalur pengiriman dapat langsung mempengaruhi ketersediaan pupuk di pasar internasional.

Besarnya peran kawasan tersebut membuat Selat Hormuz sering disebut sebagai “nutrient highway” atau jalur utama perdagangan nutrisi pertanian global.

Potensi lonjakan harga pupuk

Gangguan di Selat Hormuz tidak hanya berpotensi menghambat distribusi pupuk, tetapi juga dapat memicu lonjakan harga yang signifikan.

Rabobank memodelkan sejumlah skenario jika jalur tersebut terganggu. Dalam skenario penutupan penuh, harga urea di sejumlah negara pengimpor utama dapat melonjak tajam dalam waktu singkat.

Laporan tersebut memperkirakan bahwa harga pupuk urea di Brasil dapat naik lebih dari 100 persen dalam tiga bulan, sementara harga di India berpotensi meningkat sekitar 80 persen.

Kedua negara tersebut termasuk konsumen pupuk terbesar di dunia dan sangat bergantung pada impor.

Secara keseluruhan, kebutuhan impor pupuk urea Brasil dan India diperkirakan mencapai lebih dari 15 juta metrik ton per tahun, sehingga setiap gangguan pasokan dapat langsung mempengaruhi harga domestik.

Tidak hanya urea yang terdampak. Gangguan pada Selat Hormuz juga berpotensi mempengaruhi pasar fosfat dan sulfur, dua komoditas penting dalam produksi pupuk.

Rabobank menjelaskan, pasar fosfat memiliki ketergantungan struktural pada sulfur, yang sebagian besar diproduksi sebagai produk sampingan dari industri energi di kawasan Teluk.

Oleh karena itu, gangguan perdagangan energi dapat berdampak langsung pada rantai produksi pupuk global.

Ketergantungan tinggi pada jalur Selat Hormuz

Data perdagangan menunjukkan besarnya ketergantungan pasar pupuk global terhadap jalur ini.

Analisis perdagangan Kpler menunjukkan, setiap bulan sekitar 3 juta hingga 3,9 juta ton pupuk dikirim dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz.

Volume tersebut terdiri dari berbagai jenis pupuk dan bahan baku penting, antara lain sebagai berikut.

Sekitar 1,2 juta sampai 1,5 juta ton pupuk urea

Sekitar 1,5 juta sampai 1,8 juta ton sulfur

Sekitar 400.000 sampai 500.000 ton amonia dan fosfat.

Jika jalur ini tertutup, sebagian besar pengiriman tersebut tidak dapat dengan mudah dialihkan ke rute alternatif. Hal ini berbeda dengan beberapa komoditas lain yang memiliki jalur perdagangan lebih fleksibel.

Rabobank menilai, jalur Selat Hormuz relatif sulit digantikan karena sebagian besar pelabuhan ekspor utama di kawasan Teluk bergantung pada jalur tersebut untuk mencapai pasar global.

Dampak tidak langsung dari harga energi

Selain mengganggu distribusi pupuk, penutupan Selat Hormuz juga dapat meningkatkan biaya produksi pupuk melalui lonjakan harga energi.

Produksi pupuk nitrogen, termasuk urea dan amonia, sangat bergantung pada gas alam dan energi sebagai bahan baku utama. Karena itu, kenaikan harga minyak dan gas seringkali langsung mempengaruhi biaya produksi pupuk.

Analisis ekonomi menunjukkan, peningkatan harga energi dapat memicu efek berantai pada industri pupuk.

Ilustrasi pupuk nitrogen.

Dikutip dari The Economic Times, produksi pupuk berbasis nitrogen, khususnya pupuk urea dan amonia, bergantung pada gas alam dan minyak sebagai bahan baku.

Kenaikan harga minyak mentah seringkali mendorong kenaikan harga LNG, sehingga membuat produksi pupuk menjadi lebih mahal.

Kenaikan harga minyak sudah mulai terlihat sejak meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut. Harga acuan minyak mentah Brent tercatat naik ke sekitar 72,8 dollar AS per barrel, atau sekitar Rp 1,22 juta per barrel dengan kurs Rp 16.800 per dollar AS.

Dalam skenario gangguan yang lebih serius di Selat Hormuz, harga minyak diperkirakan bisa naik lebih jauh.

“Analisis skenario menunjukkan bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat mendorong harga di atas 90 dollar AS per barrel, sementara konflik regional yang lebih luas dapat mendorong harga minyak mentah melampaui 100 dollar AS per barrel,” menurut JM Financial Institutional Securities.

Kenaikan harga energi tersebut dapat meningkatkan biaya produksi pupuk di berbagai negara, terutama bagi produsen yang bergantung pada impor gas alam cair (LNG).

Risiko terhadap subsidi pupuk

Lonjakan harga pupuk juga berpotensi berdampak pada kebijakan fiskal di berbagai negara yang memberikan subsidi untuk sektor pertanian.

Sejumlah negara, khususnya negara berkembang, menanggung sebagian biaya pupuk untuk menjaga harga tetap terjangkau bagi petani. Jika harga pupuk global meningkat tajam, beban subsidi pemerintah dapat meningkat.

Kenaikan harga pupuk impor dapat mempengaruhi anggaran negara.

Gangguan pasokan akibat konflik di Selat Hormuz juga dapat mempengaruhi keseimbangan perdagangan pupuk global.

SHUTTERSTOCK/VITALII STOCK Ilustrasi pupuk urea dari ammonium

“Gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz dapat berdampak pada pasokan/harga ekspor dan impor,” jelas DK Pant, kepala ekonom India Ratings, dikutip dari The Financial Express.

Dampak terhadap sistem pangan global

Karena pupuk merupakan input utama dalam produksi pangan, setiap gangguan pada pasar pupuk berpotensi mempengaruhi harga pangan global.

Eksekutif industri pupuk juga memperingatkan bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah dapat memicu volatilitas besar pada pasar pertanian.

Dalam laporan mengenai ketegangan di kawasan tersebut, kepala perusahaan pupuk global Yara menyatakan, industri pupuk dan para pelaku pasar sedang memantau risiko di sekitar Selat Hormuz.

Ia menekankan, pasar pupuk global sangat sensitif terhadap gangguan rantai pasok energi dan logistik.

Kawasan Timur Tengah memiliki peran penting dalam perdagangan nutrisi pertanian, dan gangguan pada jalur pelayaran utama dapat dengan cepat mempengaruhi harga serta ketersediaan pupuk di pasar global.

Ketergantungan perdagangan global pada Selat Hormuz

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur perdagangan paling sibuk di dunia. Jalur ini dilalui oleh berbagai komoditas penting, termasuk energi dan bahan baku industri.

Menurut warta Al Jazeera, setiap tahun, perdagangan minyak dan gas senilai lebih dari 500 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 8.400 triliun, melewati jalur ini.

Besarnya volume perdagangan tersebut menunjukkan betapa pentingnya jalur ini bagi stabilitas ekonomi global.

Gangguan pada jalur tersebut tidak hanya mempengaruhi pasar energi, tetapi juga rantai pasok komoditas lain, termasuk pupuk.

Dalam konteks pertanian global, ketergantungan pada jalur ini menjadikan Selat Hormuz sebagai salah satu titik kritis dalam sistem pangan dunia.

Jika jalur tersebut terganggu, dampaknya dapat merambat dari pasar energi ke industri pupuk, dan akhirnya ke sektor pertanian serta harga pangan di berbagai negara.

You can share this post!