Pembangunan infrastruktur di Indonesia semakin digenjot sejak Joko Widodo dan Jusuf Kalla menjabat sebagai pemimpin negara. Program pembangunan yang fokus pada daerah pinggiran ini mulai menunjukkan hasil, dengan banyaknya proyek jalan tol yang telah selesai dan resmi dibuka.
Selain jalan tol, pembangunan infrastruktur lainnya seperti bendungan, pelabuhan, bandar udara, pasar, dan sekolah juga dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Namun, pertumbuhan ekonomi yang diharapkan masih belum terlihat signifikan, dan hal ini menjadi sasaran kritik dari kalangan lawan politik. Mereka berargumen bahwa pembangunan tersebut tidak memberikan kesejahteraan yang nyata, serta menambah beban utang luar negeri yang kini telah mencapai lebih dari 4 triliun Rupiah.
Walaupun pembangunan fisik menunjukkan kemajuan yang nyata, terdapat perdebatan mengenai apakah pencapaian tersebut dapat dipisahkan dari konteks politik. Banyak proyek yang selesai saat ini merupakan kelanjutan dari proyek yang terhenti pada pemerintahan sebelumnya, dan fakta-fakta ini sering kali digunakan sebagai alat politik untuk menyerang pihak lawan.
Dalam momen-momen tertentu, seperti peresmian Bandara Internasional Kertajati, masyarakat terasa bangga dan merasa terhubung dengan pembangunan yang terjadi. Laporan yang menggambarkan kebanggaan masyarakat akan aksesibilitas yang lebih baik dan dinamika perekonomian yang meningkat mampu menangkap esensi dari perasaan tersebut.
Kemajuan infrastruktur, seperti penyelesaian jalan tol Pantai Selatan Jawa, juga mendapat sorotan positif. Video-video yang dibagikan melalui media sosial menunjukkan keindahan alam dan kehidupan masyarakat di sepanjang jalur tersebut, menciptakan rasa bangga dan keterhubungan yang kuat dengan identitas bangsa.
Pembangunan yang terjadi di berbagai wilayah, termasuk Papua, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, juga menjadi bagian dari narasi yang membangun memori kolektif tentang Indonesia. Masyarakat merasa terlibat dalam proses pembangunan ini, baik melalui pengalaman langsung maupun melalui media.
Pertanyaan yang muncul adalah, apa sebenarnya tujuan dari upaya pembangunan masif yang menghabiskan dana triliunan Rupiah ini? Bagi sebagian lawan politik Presiden Jokowi, mereka melihatnya sebagai upaya pencitraan untuk melanggengkan kekuasaan. Namun, pandangan ini dapat menyakitkan karena mereduksi pencapaian pembangunan hanya pada kepentingan politik jangka pendek.
Fakta bahwa setiap presiden Indonesia dapat mengubah pencapaian mereka menjadi komoditas politik menunjukkan kompleksitas dari pembangunan itu sendiri. Sementara ada kepentingan politik yang terlibat, tidak dapat dipungkiri bahwa tindakan pembangunan tersebut juga memiliki dampak positif bagi masyarakat.
Oleh karena itu, penting untuk mendiskusikan pembangunan infrastruktur dalam konteks yang lebih luas, yaitu sebagai upaya membangun identitas dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, bukan sekadar sebagai alat politik.