Pemanfaatan teknologi informasi dalam dunia pendidikan anak usia dini kini semakin meluas. Guru Taman Kanak-Kanak (TK), khususnya, memegang peran strategis dalam memperkenalkan penggunaan teknologi secara bijak sejak dini. Namun, literasi mengenai keamanan data pribadi di kalangan guru TK masih tergolong rendah, yang dapat membuka potensi kebocoran data, penyalahgunaan informasi, hingga risiko kejahatan siber.
Fenomena ini mendorong diselenggarakannya pelatihan bertajuk “Jaga Data, Jaga Diri” yang diikuti oleh guru TK ABA se-Ambarketawang, Gamping, Sleman. Pelatihan ini digelar pada 6 dan 8 Mei 2025 sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat oleh Dr. Fitri Zakiyah, S.Pd.I., M.Pd. dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), berkolaborasi dengan Moh. Idris dari Universitas Islam Indonesia (UII) yang juga bertindak sebagai pemateri.
“Kami berdiskusi dengan Ketua PCA Gamping, Ibu Nur Hayati, dan menemukan bahwa sebagian besar guru TK ABA belum pernah mendapatkan pelatihan khusus mengenai perlindungan data pribadi, padahal mereka sangat dekat dengan data anak-anak,” ujar Fitri saat diwawancarai Humas UMY, Kamis (10/7).
Dari KTP hingga Email Sekolah: Data Pribadi Perlu Perlindungan
Dalam pelatihan tersebut, para peserta diajak untuk memahami berbagai bentuk data pribadi, mulai dari KTP, nomor ponsel, akun media sosial, hingga email sekolah, yang kerap dianggap sepele namun rentan disalahgunakan.
Idris, selaku narasumber, memaparkan secara praktis cara-cara menjaga keamanan digital, seperti: Penggunaan Two-Factor Authentication (2FA); Membuat kata sandi yang kuat; Pemeriksaan keamanan akun email dan media sosial; Studi kasus phishing dan penipuan digital.
Peserta juga dibekali simulasi pemeriksaan keamanan akun pribadi mereka. Banyak yang baru menyadari bahwa menyimpan password di aplikasi catatan atau membagikan nomor ponsel tanpa perlindungan bisa menjadi celah kejahatan siber.
“Ternyata data pribadi itu tidak hanya soal KTP atau NIK, tapi juga nomor HP, foto anak, bahkan email sekolah. Banyak hal yang selama ini dianggap biasa saja ternyata sangat rawan disalahgunakan,” jelas Fitri.
Tanggapan Positif dan Harapan Pelatihan Lanjutan
Pelatihan ini mendapat sambutan positif dari peserta. Banyak guru merasa materi yang diberikan sangat relevan dengan pengalaman pribadi, terutama dalam menghadapi penipuan digital dan permintaan data tanpa prosedur yang aman.
“Ketua PCA Gamping menyampaikan bahwa ini pelatihan pertama soal data pribadi yang menyentuh langsung kebutuhan guru. Mereka kini lebih sadar akan pentingnya melindungi data pribadi mereka dan anak-anak,” tutur Fitri.
Para peserta bahkan mengusulkan agar pelatihan serupa diadakan kembali dengan cakupan materi yang lebih mendalam dan peserta yang lebih luas. Menurut Fitri, ini penting agar guru tidak hanya mampu melindungi data pribadinya sendiri, tetapi juga bisa menjadi agen literasi digital bagi anak-anak dan komunitasnya.
“Terkadang hal sederhana seperti memperbarui foto saja bisa menyertakan data pribadi tanpa disadari. Harapannya, pelatihan ini bisa terus berlanjut karena masih banyak aspek keamanan digital yang perlu dibahas lebih jauh,” pungkasnya. (Mut)