Museum Sepuluh Nopember: Ruang Refleksi Kebhinekaan dan Nasionalisme
Ruang Bangsa

Museum Sepuluh Nopember: Ruang Refleksi Kebhinekaan dan Nasionalisme

Pada hari Jumat, 10 Oktober 2025, kelompok 09 dari kelas PDB 59, mahasiswa Universitas Airlangga, melakukan studi lapangan ke Museum Sepuluh Nopember dan Tugu Pahlawan yang terletak di pusat Kota Surabaya. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran mata kuliah yang bertujuan untuk memperkuat pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan serta menumbuhkan semangat kebhinekaan melalui pengalaman langsung di situs sejarah perjuangan bangsa.

Museum Sepuluh Nopember bukan hanya sekadar tempat penyimpanan artefak sejarah, melainkan juga ruang yang merekam semangat rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Di dalam museum ini tersimpan berbagai artefak perjuangan, seperti senjata api, granat, radio komunikasi, serta diorama pertempuran yang menggambarkan keberanian arek-arek Surabaya dalam melawan penjajah pada tahun 1945.

Kunjungan ke museum ini memberikan kesadaran akan fakta bahwa perjuangan kemerdekaan adalah hasil kolaborasi lintas suku, agama, dan keyakinan. Dalam peristiwa 10 November, rakyat Indonesia menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan sebuah kekuatan. Mereka memilih untuk bersatu demi tanah air tanpa mempersoalkan latar belakang. Di sini, nilai kebhinekaan dan nasionalisme berpadu dalam semangat yang sama: cinta kepada Indonesia.

Nilai ketaatan sebagai warga negara juga tercermin dari semangat para pejuang yang rela mengorbankan segalanya demi kemerdekaan. Ketaatan ini bukan sekadar tentang patuh terhadap aturan, tetapi juga tentang kesediaan menjaga keutuhan bangsa, menghormati hak orang lain, dan berkontribusi dalam kehidupan sosial. Pendidikan kewarganegaraan seharusnya tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi juga hadir dalam pengalaman nyata, seperti kunjungan ke museum, yang dapat menghidupkan kesadaran kolektif sebagai warga negara yang berbhineka namun tetap satu.

Toleransi menjadi benang merah dalam perjuangan kemerdekaan. Sejarah menunjukkan bagaimana tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang bersatu dalam satu barisan untuk melawan penjajahan. Mereka menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan sebagai sumber perpecahan. Dalam konteks saat ini, toleransi merupakan fondasi penting untuk menjaga kebhinekaan dan keutuhan negara di tengah tantangan global.

Generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga warisan ini. Di era digital, tantangan kebangsaan dan kebhinekaan telah berubah bentuk. Polarisasi sosial, disinformasi, dan krisis identitas menjadi ancaman nyata. Museum Sepuluh Nopember berfungsi sebagai ruang edukasi yang relevan untuk membangun karakter generasi muda yang peduli, kritis, dan cinta tanah air.

You can share this post!