Kota Lhokseumawe, salah satu daerah di Aceh, memiliki dinamika tata ruang yang unik. Meskipun mengalami perkembangan industri dan perumahan, gampong-gampong di wilayah ini tetap menyimpan kearifan lokal dalam menata ruangnya. Pola tata ruang yang ada merupakan hasil dari interaksi masyarakat dengan alam dan lingkungan sekitar.
Namun, dengan kemajuan zaman dan teknologi modern, pengetahuan lokal mengenai tata ruang semakin tergerus. Modernisasi dan percepatan pembangunan infrastruktur telah mengubah wajah tata ruang di Kota Lhokseumawe.
Menurut Qanun Kota Lhokseumawe Nomor 1 Tahun 2014, pemanfaatan ruang kota diharapkan tetap seimbang dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Sayangnya, laporan MetroAceh mengindikasikan bahwa pelaksanaan kebijakan ini belum optimal. Beberapa area mengalami kesalahan fungsi, terbengkalai, atau bahkan memperburuk kondisi kota. Salah satu contohnya adalah kawasan wisata Ujong Blang, di mana pengembangan pariwisata mengubah zona perlindungan pantai menjadi zona ekonomi, yang mempercepat abrasi pantai dan mengakibatkan mundurnya garis pantai.
Hasil kajian Customer Satisfaction Index (CSI) menunjukkan bahwa tata ruang di Lhokseumawe masih memiliki banyak kekurangan. Masyarakat mengeluhkan aspek kebersihan, keamanan, dan fungsionalitas lingkungan permukiman, yang menunjukkan bahwa perencanaan tata ruang belum sepenuhnya mencerminkan kebutuhan dan persepsi mereka. Ketidaksesuaian antara kebijakan dan realitas di lapangan pun menjadi masalah yang perlu diatasi.
Pembelajaran geografi di SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe menerapkan pendekatan project-based learning, yang mengaitkan teori dengan praktik nyata di lapangan. Dalam konteks ini, siswa belajar tentang tata ruang gampong sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Proses pembelajaran dimulai dengan pengenalan konsep dasar tata ruang, di mana siswa memahami bagaimana suatu wilayah direncanakan dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Siswa kemudian dibagi menjadi dua kelompok dan melakukan observasi di dua gampong, yaitu Gampong Ujong Blang dan Gampong Lancang Garam. Observasi ini meliputi pola permukiman, fasilitas umum, dan ruang terbuka hijau, serta analisis potensi dan permasalahan yang ada.
Selain itu, siswa juga melakukan wawancara dengan masyarakat setempat untuk memahami alasan di balik penempatan fasilitas tertentu. Pendekatan ini tidak hanya memberikan wawasan tentang tata ruang, tetapi juga mengajak siswa untuk berpikir kritis terhadap lingkungan sekitar mereka.
Perkembangan teknologi digital memberikan peluang baru bagi siswa untuk memahami tata ruang dengan cara yang lebih interaktif. Siswa kini dapat menggunakan teknologi untuk menjelajahi wilayah secara virtual, berbeda dengan metode sebelumnya yang hanya mengandalkan peta statis. Pertanyaannya, bagaimana jika teknologi digital dan kearifan lokal digabungkan dalam satu model pembelajaran?
Dengan mengintegrasikan kedua aspek ini, diharapkan siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman praktis yang dapat membantu mereka memahami dan menghargai tata ruang gampong sebagai bagian dari identitas budaya dan lingkungan mereka.