Mengenal Asgardia, Proyek ‘Bangsa Ruang Angkasa’ yang Menarik Ratusan Ribu Pendaftar, Termasuk Warga Indonesia
Ruang Bangsa

Mengenal Asgardia, Proyek ‘Bangsa Ruang Angkasa’ yang Menarik Ratusan Ribu Pendaftar, Termasuk Warga Indonesia

Asgardia, proyek yang mengklaim sebagai “bangsa independen pertama yang beroperasi di ruang angkasa”, menarik perhatian luas sejak diumumkan pada Oktober 2016. Pendaftaran disebut terbuka untuk siapa saja tanpa biaya, dan jumlah pendaftar terus bertambah dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Hingga Kamis (27/07) malam, jumlah pendaftar dilaporkan telah melampaui 280.000 orang, dengan Indonesia berada di peringkat ketujuh dengan angka mendekati 10.000. Namun, data lain menyebutkan bahwa sampai Senin (31/07) jumlah pendaftar dari Indonesia mencapai lebih dari 166.000 dan berada di peringkat keempat, di bawah Turki, Cina, dan Amerika Serikat.

Nama Asgardia diambil dari kota dalam mitologi Norse yang digambarkan berada di langit. Lena de Winne dari manajemen Asgardia—yang sebelumnya bekerja selama 15 tahun di European Space Agency—mengatakan pihaknya gembira melihat tingginya respons pendaftar, termasuk dari Indonesia.

Astronom Observatorium Bosscha Lembang, Moedji Raharto, menilai tingginya minat orang Indonesia bisa terkait dengan banyaknya peristiwa langit yang kerap terjadi di Tanah Air, seperti gerhana, sehingga kedekatan masyarakat dengan fenomena langit dapat mendorong respons terhadap tawaran terkait ruang angkasa.

1) Klaim sebagai bangsa independen di ruang angkasa

Proyek ini diumumkan oleh ilmuwan Rusia, Igor Ashurbeyli. Dalam 40 jam setelah pengumuman, lebih dari 100.000 orang disebut mendaftarkan “kewarganegaraan” melalui situs Asgardia.

Pendaftaran terbuka bagi siapa pun berusia di atas 18 tahun yang memiliki alamat email, tanpa memandang kebangsaan, gender, ras, agama, maupun kondisi keuangan. Bekas narapidana juga dapat mendaftar selama bebas dari dakwaan saat pendaftaran.

Disebutkan pula bahwa terdapat lebih dari 280.000 pendaftar dari 217 negara, dengan mayoritas berusia 18–35 tahun. Indonesia sempat disebut berada di peringkat ketujuh, dengan pendaftar berasal dari sejumlah kota seperti Jakarta, Bandung, Mataram, hingga Jayapura. Pendaftar terbanyak dilaporkan berasal dari Turki, disusul Cina, Amerika Serikat, Brasil, dan Inggris.

2) Rencana peluncuran satelit

Kehadiran awal Asgardia di ruang angkasa direncanakan melalui pengiriman satelit yang akan dibawa menggunakan wahana ruang angkasa milik NASA menuju International Space Station (ISS). Setelah itu, satelit disebut akan diorbitkan.

Lena de Winne mengatakan foto atau data dari para pendaftar akan dibawa dalam satelit tersebut. Namun, ia belum menyebutkan tanggal pasti peluncuran karena jadwal masih menunggu kepastian dari NASA.

3) Ragam respons pendaftar

Berbagai komentar muncul dari calon warga Asgardia di media sosial. Di antaranya, akun bernama Vishal Swami menuliskan bahwa Asgardia merupakan tujuan yang hebat dan ia berterima kasih kepada pihak yang membangun “bangsa” tersebut.

Pengguna lain, Yanaka Putra, menulis bahwa ia bergabung karena ingin tinggal di ruang angkasa dan mempertanyakan kapan warga Asgardia mulai pindah ke ruang angkasa.

Di Hong Kong, seorang spesialis marketing bernama John Spiro disebut mengatur pertemuan bulanan untuk warga Asgardia. Ia mengatakan ketertarikannya muncul karena adanya rencana pengiriman data atau barang pribadi ke ruang angkasa. Spiro mencontohkan hobi menyimpan sutra Buddha dan menyebut gagasan mengirim salah satu barang keagamaan itu dalam bentuk teks elektronik sebagai sesuatu yang menyenangkan.

4) Rencana membangun anjungan di orbit rendah

Tim Asgardia menyatakan akan membangun anjungan di ruang angkasa pada orbit rendah, sekitar 100 hingga 600 kilometer dari permukaan Bumi—ketinggian yang juga menjadi lokasi ISS.

Menurut Lena de Winne, penerbangan manusia pertama direncanakan dalam delapan tahun, namun pada tahap awal akan dibatasi untuk kalangan profesional, termasuk pilot pesawat ruang angkasa dan pakar navigasi. Adapun rencana wisata ruang angkasa menuju anjungan Asgardia disebut memerlukan waktu persiapan yang lebih lama.

5) Pendiri dan rencana pengakuan internasional

Igor Ashurbeyli menyatakan saat peluncuran proyek pada Oktober sebelumnya bahwa langkah tersebut “bukan fantasi” dan ia menginginkan sesuatu yang lebih nyata. Ilmuwan berusia 53 tahun itu mendanai proyek ini sendiri, meski jumlahnya tidak disebutkan.

Ashurbeyli dilaporkan sebagai miliuner, namun disebut tidak pernah muncul dalam daftar orang terkaya versi majalah Forbes. Ia merupakan pakar roket yang lahir di Azerbaijan, lulus dari Akademi Perminyakan pada 1985, dan tiga tahun kemudian mendirikan perusahaan perangkat lunak Socium yang diklaim memiliki lebih dari 10.000 karyawan. Setelah pindah ke Moskow pada 1990-an, ia disebut berpengaruh di industri sains dan pernah menerima penghargaan negara untuk sains dan teknologi.

Ashurbeyli juga menyatakan Asgardia akan mengajukan pendaftaran ke PBB sebagai sebuah bangsa pada 2018. Namun, profesor Sa’id Mosteshar, Direktur London Institute of Space Policy and Law, meragukan apakah Asgardia dapat diakui berdasarkan hukum internasional.

You can share this post!