Sejak era Reformasi, aneka buku yang membahas etnik Tionghoa semakin banyak bermunculan. Kehadiran berbagai publikasi tersebut memperkaya bahan bacaan dan membuka peluang untuk melihat sejarah bangsa dari sudut pandang yang lebih beragam.
Meski referensi tentang etnik Tionghoa kian tersedia, persoalan berikutnya adalah bagaimana memasukkan narasi peran etnik Tionghoa ke dalam kurikulum serta buku ajar sejarah. Hingga kini, isu tersebut masih menjadi pekerjaan rumah.
Perdebatan dan upaya penataan narasi ini menunjukkan bahwa penyusunan materi sejarah tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber, tetapi juga pada keputusan bagaimana sejarah diajarkan dan dipahami.