Kerja negara dalam membangun fondasi bangsa sering kali ditandai dengan keputusan-keputusan yang efeknya akan terlihat secara bertahap namun signifikan bagi arah masa depan. Pendidikan berperan penting dalam upaya ini, menjadi ikhtiar berkelanjutan untuk membangun kualitas generasi masa depan melalui sekolah, ruang kelas, dan pengalaman belajar yang bermartabat.
Dalam konteks ini, arah pembangunan pendidikan nasional menuju tahun 2026 perlu dicermati. Setelah merampungkan renovasi 16.140 sekolah pada tahun 2025, pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto akan meningkatkan skala program renovasi menjadi 60.000 sekolah. Langkah ini mencerminkan komitmen strategis negara untuk memperbaiki pendidikan dari akarnya, bukan sekadar melalui perubahan kebijakan di atas kertas.
Sekolah bukan hanya sekadar bangunan fisik; ia merupakan ruang untuk membentuk karakter, nalar, dan imajinasi kebangsaan. Ketika lingkungan belajar aman, sehat, dan layak, proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan martabat. Oleh karena itu, renovasi sekolah memiliki makna lebih dari sekadar peningkatan fasilitas. Hal ini menciptakan iklim belajar yang kondusif, meningkatkan kehadiran siswa, serta memperkuat peran sekolah sebagai pusat kehidupan sosial di masyarakat.
Pembangunan fondasi fisik sekolah sejalan dengan transformasi pembelajaran. Pada tahun 2025, pemerintah telah mendistribusikan 288.000 layar pintar ke sekolah-sekolah, dan pada tahun 2026, jumlah tersebut akan meningkat hampir mencapai satu juta unit. Setiap sekolah dengan empat ruang kelas atau lebih akan mendapatkan empat layar pintar untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.
Kebijakan ini mencerminkan pemahaman bahwa peningkatan kualitas pendidikan memerlukan dukungan alat belajar yang sesuai dengan perkembangan zaman. Layar pintar memungkinkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan kontekstual, sehingga materi pelajaran dapat disampaikan dengan cara yang lebih menarik. Teknologi di sini berfungsi untuk memperkuat kapasitas guru, bukan menggantikan peran pendidik.
Namun, membangun fondasi bangsa melalui sekolah tidak hanya terbatas pada ruang kelas dan perangkat pembelajaran. Akses yang aman dan layak menuju sekolah juga sangat menentukan. Penugasan Kepala Staf Angkatan Darat untuk memimpin Satgas Pembangunan Jembatan menunjukkan perluasan pandangan negara terhadap kebijakan pendidikan, dengan mengaitkan pendidikan dan infrastruktur dasar.
Di banyak daerah, terutama di pedesaan dan terpencil, anak-anak masih harus berhadapan dengan berbagai tantangan seperti sungai, jalan rusak, dan medan berbahaya untuk mencapai sekolah. Ketika negara membangun jembatan agar anak-anak dapat bersekolah dengan aman, prinsip keadilan mendasar ditegaskan, yaitu hak atas pendidikan harus dapat diakses dengan aman dan manusiawi.
Implementasi kebijakan besar memerlukan tata kelola yang kuat. Pengawasan pelaksanaan, kesiapan guru dalam memanfaatkan teknologi, serta pemeliharaan fasilitas harus menjadi bagian integral dari agenda. Tanpa pengelolaan yang disiplin, investasi besar berisiko tidak memberikan dampak maksimal.
Penting untuk dicatat bahwa konsistensi arah kebijakan sangat diperlukan. Negara tidak menjanjikan hasil instan, tetapi menunjukkan komitmen untuk bekerja dalam jangka panjang. Pendidikan ditempatkan sebagai agenda lintas waktu yang memerlukan kesinambungan, evaluasi berkelanjutan, dan perbaikan institusional. Di sinilah karakter kebijakan diuji—bukan hanya pada retorika, tetapi pada ketekunan dalam pelaksanaan.
Memang, membangun fondasi bangsa melalui pendidikan adalah kerja yang memerlukan kesabaran, keberanian, dan visi jangka panjang. Meskipun hasilnya tidak selalu segera terlihat, upaya ini sangat penting bagi kualitas generasi mendatang. Ketika negara berkomitmen untuk menyediakan sekolah yang layak, teknologi pembelajaran yang relevan, dan akses yang aman, sesungguhnya negara sedang menanam investasi yang berharga untuk masa depannya sendiri.
Dalam kerangka ini, pembangunan pendidikan saat ini seharusnya dipahami sebagai kerja panjang negara, suatu usaha yang mungkin tidak selalu terlihat glamor namun secara perlahan dan pasti membangun dasar yang kokoh bagi masa depan bangsa.