Hari Ber-Muhammadiyah: Ruang Perekat Kohesivitas Sosial Bangsa
Ruang Bangsa

Hari Ber-Muhammadiyah: Ruang Perekat Kohesivitas Sosial Bangsa

Tradisi yang Menguatkan Silaturahmi

Di Kota Semarang, tradisi Hari Ber-Muhammadiyah (HBM) kembali mengemuka sebagai momen penting untuk memperkuat tali persaudaraan antar umat. Acara yang berlangsung di Halaman Kantor Kecamatan Genuk pada Ahad (12/4) ini, menarik perhatian banyak pihak, termasuk dari Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama dan pemerintah lokal.

Agus Taufiqurrahman, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mengungkapkan bahwa HBM, yang awalnya dikenal sebagai Hari Silaturahmi Muhammadiyah (HSN), menjadi simbol kebersamaan yang lebih luas. Ia menekankan pentingnya acara ini sebagai ruang untuk mengokohkan silaturahmi di tengah keragaman yang ada di Indonesia.

Membangun Kohesivitas Sosial

Menurut Agus, HBM bukan sekadar tradisi, melainkan juga sebagai upaya untuk menjaga kohesivitas sosial di tengah tantangan yang dihadapi. "Kita harus saling hidup rukun dan tidak terpengaruh oleh pihak-pihak yang berusaha memecah belah," tegasnya. Ia mengajak semua elemen untuk tidak terprovokasi oleh isu-isu yang dapat menimbulkan perpecahan.

Agus menambahkan bahwa esensi HBM harus melekat kuat sebagai ruang perekatan sosial, yang tetap berlandaskan pada nilai-nilai keislaman. "Event ini tidak hanya untuk internal Persyarikatan, tetapi juga untuk seluruh komponen masyarakat," ujarnya. Dengan demikian, HBM diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi bangsa.

Peran serta dalam Memelihara Keharmonisan

Acara HBM diharapkan dapat menjadi momentum bagi lembaga dakwah Muhammadiyah untuk berkontribusi dalam menjaga Indonesia agar tetap berada di jalur yang benar. Agus menekankan bahwa kegiatan ini bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kepentingan masyarakat secara keseluruhan. "Insya Allah, apa yang kita lakukan ini akan memberikan kemanfaatan bagi semua," tutupnya.

You can share this post!