Ruang Bangsa - Denpasar, Balijani.id | Di tengah padatnya agenda menghadiri London Climate Action Week 2026, Gubernur Bali Wayan Koster memilih tidak sekadar hadir dalam forum dunia. Ia melangkah lebih jauh, menembus dua simbol peradaban modern, yakni Universitas Oxford dan Kantor Pusat Google di Inggris. Langkah itu bukan seremoni, melainkan pesan tegas bahwa Bali tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah perubahan global.
Di Universitas Oxford, Koster disambut para dosen, mahasiswa, dan diaspora Indonesia, termasuk semeton Bali yang tengah menempuh pendidikan magister dan doktor. Suasana hangat itu menjadi ruang bertukar gagasan tentang masa depan Bali yang bertumpu pada ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi internasional.
“Kita harus membangun Bali dengan kekuatan sumber daya manusianya. Anak-anak Bali yang berprestasi di berbagai perguruan tinggi dunia adalah aset yang harus menjadi jembatan transfer ilmu pengetahuan, teknologi, dan jejaring internasional untuk kemajuan Bali,” tegas Gubernur Wayan Koster di Denpasar, Minggu (4/07/2026).
Menurut Koster, pembangunan Bali tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam dan pariwisata. Dunia bergerak cepat menuju ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi. Karena itu, Bali harus menyiapkan generasi yang mampu bersaing di panggung global tanpa kehilangan akar budaya.
Komitmen itu selaras dengan kebijakan pembangunan hijau yang selama ini dijalankan Pemerintah Provinsi Bali, mulai dari energi bersih, transportasi ramah lingkungan, pengurangan plastik sekali pakai, hingga pengembangan pertanian organik. Kebijakan tersebut menjadi alasan Bali memperoleh perhatian dunia dan diundang dalam forum bergengsi London Climate Action Week 2026.
Jajaki Inovasi Pusat Data di Markas Google London
Perjalanan kemudian berlanjut ke Kantor Pusat Google di London. Difasilitasi Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris, Desra Percaya, Koster diterima ilmuwan muda Indonesia, Adhiguna Kuncoro, peneliti bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang berkiprah di Google.
Di sana, Koster tidak hanya melihat perkembangan teknologi digital dunia, tetapi juga berdiskusi mengenai peluang Bali membangun pusat data berbasis teknologi untuk mendukung pengelolaan kebudayaan, pariwisata, hingga perekonomian daerah.
“Bali harus berani masuk ke era digital dengan tetap menjaga jati dirinya. Teknologi bukan ancaman bagi budaya, tetapi alat untuk memperkuat kebudayaan, meningkatkan pelayanan publik, serta memperkuat daya saing ekonomi Bali di tingkat global,” ujar Koster.
Kunjungan ke Oxford dan Google menjadi penegasan bahwa diplomasi pembangunan tidak cukup dilakukan di ruang-ruang pemerintahan. Masa depan daerah juga dibangun melalui kampus terbaik dunia, pusat riset, dan perusahaan teknologi global.
Di saat banyak daerah masih berkutat pada persoalan jangka pendek, Bali memilih membuka pintu menuju masa depan. Dari Oxford lahir ilmu, dari Google lahir inovasi. Keduanya menjadi bekal yang ingin dibawa Gubernur Wayan Koster pulang untuk membangun Bali yang berakar kuat pada budaya, namun mampu berdiri sejajar dalam percaturan dunia.