Exxon juga akan mengubah skema kontrak cost recovery
Red: Intan Pratiwi
Foto: Republika.co.id
Menteri Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (10/6/2025).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah memastikan perpanjangan operasi perusahaan migas asal Amerika Serikat, ExxonMobil, hingga 2055 dengan tambahan rencana investasi sekitar 10 miliar dolar AS. Kepastian ini diberikan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produksi migas nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, komunikasi antara pemerintah dan ExxonMobil telah berjalan intensif. Perusahaan tersebut merupakan salah satu kontributor lifting terbesar nasional selain Pertamina.
“Kami juga melakukan komunikasi terhadap ExxonMobil. ExxonMobil ini salah satu perusahaan minyak Amerika Serikat yang sudah 100 tahun lebih beroperasi di Indonesia dan mereka adalah salah satu penyumbang lifting terbesar selain Pertamina. Hari ini lifting mereka kurang lebih sekitar 170.000 sampai 185.000 barel,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Washington DC, Jumat (20/2/2026).
Ia menegaskan, pemerintah berencana memperpanjang kontrak hingga 2055 dengan tambahan investasi sekitar 10 miliar dolar AS. Namun, masih ada sejumlah aspek teknis yang perlu diselesaikan sebelum finalisasi.
“Kita akan memperpanjang sampai dengan 2055 dengan total investasi kurang lebih menambah 10 miliar dolar AS, namun ada beberapa hal yang harus kita clear-kan termasuk di dalamnya adalah sharing cost recovery antara pendapatan negara dan pendapatan K3S. Sebentar lagi akan selesai,” katanya.
Di sisi lain, PT Pertamina (Persero) juga membuka ruang kolaborasi strategis dengan sejumlah perusahaan energi global guna mendorong peningkatan produksi minyak dan gas bumi nasional, di tengah tantangan penurunan alami (natural decline) pada sejumlah lapangan migas domestik.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, mengatakan peningkatan lifting menjadi prioritas utama perusahaan bersama Kementerian ESDM, SKK Migas, serta para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
“Kita mengalami natural decline dan tentunya butuh terobosan-terobosan serta inisiatif yang lebih kuat agar supaya kita dapat meningkatkan produksi dan lifting kita,” ujar Simon dalam keterangannya di Washington D.C.
Menurut dia, upaya peningkatan produksi membutuhkan dukungan teknologi mutakhir, optimalisasi lapangan eksisting, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia. Dalam konteks itu, Pertamina telah merintis sejumlah nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan energi asal Amerika Serikat seperti ExxonMobil dan Chevron, serta menjajaki kerja sama dengan KDT Global Resources dan Hartree.
Pertamina juga menandatangani MoU dengan Halliburton untuk pengembangan oilfield recovery guna mengoptimalkan produksi dari lapangan-lapangan yang telah mature. Kolaborasi tersebut diharapkan tak hanya mendongkrak produksi jangka pendek, tetapi juga mendorong transfer teknologi dan penerapan praktik terbaik global di industri migas nasional.
Ikuti Whatsapp Channel Republika
Advertisement
bahlil
produksi migas indonesia
lifting minyak
blok cepu
Berita Terkait
Ekonomi - 20 April 2026, 14:19
Geopolitik Global Tekan Ketahanan Energi, Indonesia Perkuat Kolaborasi dan Kebijakan Domestik
News - 13 April 2026, 11:41
Fokus Kebersamaan dan Solusi Nyata, Ketum Bahlil Ajak Kader Golkar Perkuat Peran di Daerah
News - 12 April 2026, 12:30
Bahlil Dorong Konsolidasi dan Kinerja Kader, Jadi Kunci Penguatan Golkar di Daerah
Ekonomi - 10 April 2026, 15:49
Penyesuaian Harga BBM Non-Subsidi, Bahlil Sebut Masih Terus Dikaji
Ekonomi - 02 April 2026, 14:07
Pengamat: Dorongan WFH Menteri Bahlil untuk Hemat Energi
Ekonomi - 27 March 2026, 15:32
Pemerintah Naikkan HMA Nikel, Pajak Ekspor Produk Hilirisasi Masih Dikaji
Ekonomi - 27 March 2026, 15:18
Pemerintah Pastikan Subsidi Energi Belum Akan Dibatasi di Tengah Tekanan Global
Ekonomi - 26 March 2026, 16:32
Bahlil Pastikan Indonesia Belum Krisis Energi
Berita Lainnya
Khazanah - Rabu , 29 Apr 2026, 22:45 WIB
Menko Pangan Zulhas: Pemerintah Butuh Dukungan Ormas Islam Entaskan Kemiskinan di Sektor Pangan
Khazanah - Rabu , 29 Apr 2026, 22:00 WIB
Mengapa Haji Dikenal dengan Ibadah yang Menguras Kemampuan Fisik?
Khazanah - Rabu , 29 Apr 2026, 18:44 WIB
Jelang Haji, Penukaran Riyal di BSI Melonjak 76 Persen
Khazanah - Rabu , 29 Apr 2026, 18:20 WIB
Terpisah Dua Hari di Madinah, Roisa Akhirnya Temui Suaminya Jauhari yang Demensia
Khazanah - Rabu , 29 Apr 2026, 18:00 WIB
Ini Perbedaan yang Sangat Mencolok Sistem Ekonomi Islam dengan Kapitalisme dan Komunisme