Kegiatan bertajuk “Ekologis Lamongan Megilan” berlangsung di Balai Aula Gedung Korpri Lamongan pada Sabtu, 24 Januari 2026. Acara ini menjadi ruang temu gagasan yang memadukan elemen visual, seni, dan hubungan manusia dengan lingkungan.
Dalam kegiatan ini, para seniman, sastrawan, budayawan, dan tokoh lintas agama berkumpul untuk berdialog mengenai kondisi Lamongan saat ini, serta masa depan melalui pendekatan berbagai disiplin ilmu, termasuk seni, budaya, sosial, politik, agama, dan ekologi lingkungan.
Maestro lukis dan budayawan Hartono bersama Cak Rokhim menekankan pentingnya pendidikan lingkungan bagi generasi muda. Mereka berpendapat bahwa anak-anak perlu dikenalkan dengan nilai-nilai kepedulian terhadap alam serta isu-isu kemanusiaan dan kebangsaan. “Anak-anak harus dikenalkan sejak dini pada nilai kepedulian lingkungan, kemanusiaan, dan kebangsaan agar tumbuh jiwa patriotisme dan nasionalisme,” ungkap Cak Rokhim saat menerima kunjungan dari siswa SDN Baturono, Kecamatan Sukodadi.
Acara ini juga dihadiri oleh anggota DPRD, unsur pemerintahan, serta komunitas seni yang berinteraksi melalui karya seni yang mengangkat berbagai isu sosial dan lingkungan secara komprehensif. Kolaborasi lintas profesi tersebut bertujuan untuk mewujudkan keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran di Lamongan Megilan dengan tetap menjunjung nilai kesederhanaan dan martabat.
Anggota DPRD Lamongan, Husen S.Ag., M.Pd, mengapresiasi penyelenggara acara ini. Ia menilai kegiatan tersebut memuat pesan moral dan kritik sosial terhadap kondisi ekosistem di Lamongan. Husen juga menyoroti masalah banjir yang sering melanda kawasan Bengawan Njeroh dan sekitarnya. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten dan Provinsi sedang berupaya mengatasi masalah ini dengan menambah cerobong atau tabung penghisap air yang dialirkan ke sungai. “Langkah ini diharapkan mampu mempercepat surutnya banjir, sehingga petani sawah dan tambak tetap bisa panen,” ujarnya.
Wakil Ketua PCNU Lamongan, Kyai Nur Salim, menekankan perlunya respons cepat dari pemerintah daerah terkait banjir yang telah menggenangi rumah warga dan lahan pertanian selama hampir dua bulan. “Semoga melalui kegiatan ini, para seniman dapat menginspirasi kita semua untuk lebih peduli dan bergerak bersama,” tutup Kyai Nur Salim.