Sleman, InfoPublik — Di tengah dinamika sosial yang terus bergerak, semangat gotong royong warga Sleman kembali menemukan momentumnya. Hal itu tergambar dalam Apel Siaga Jaga Warga se-Kabupaten Sleman yang digelar di halaman Mapolres Sleman, Kamis (22/1/2026), sebagai simbol komitmen bersama menjaga ketenteraman dan ketertiban lingkungan.
Apel yang berlangsung di ibu kota Kabupaten Sleman ini mempertemukan perwakilan Jaga Warga dari seluruh kalurahan. Mereka datang dengan satu tujuan yang sama: merawat harmoni sosial dari lingkup terkecil, tempat denyut kehidupan warga berlangsung setiap hari. Hadir pula jajaran pemerintah daerah dan aparat keamanan sebagai mitra kolaboratif masyarakat.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sleman, Indra Darmawan, menegaskan bahwa keamanan bukan semata soal penegakan aturan, melainkan tentang kepedulian dan kehadiran warga satu sama lain.
“Keamanan dan ketertiban bukan hanya tugas aparat. Jaga Warga adalah garda terdepan karena merekalah yang paling memahami kehidupan sosial di lingkungannya,” ujarnya.
Ia menilai, pendekatan kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam mencegah potensi gangguan ketertiban sejak dini, terutama di tengah perubahan sosial yang kian cepat.
Lebih dari sekadar agenda seremonial, apel siaga ini menjadi ruang konsolidasi dan penguatan peran. Para peserta mendapatkan arahan terkait kesiapsiagaan, komunikasi lintas wilayah, hingga peneguhan nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini menjadi penyangga harmoni sosial di Sleman.
Dari Kapanewon Tempel, Kalurahan Margorejo turut ambil bagian dengan mengirimkan perwakilan Jaga Warga dari Padukuhan Kadiluwih, Mangkudranan, Cungkuk, dan Ngamboh. Kehadiran mereka mencerminkan keterlibatan nyata masyarakat akar rumput dalam menjaga ketertiban, bukan karena kewajiban, tetapi karena rasa memiliki terhadap lingkungan.
Sindhu, salah satu perwakilan Jaga Warga Margorejo, mengaku apel siaga ini memberi suntikan semangat baru.
“Kami merasa diapresiasi. Ini membuat kami lebih percaya diri menjalankan peran di lingkungan masing-masing. Bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial,” tuturnya.
Dalam konteks yang lebih luas, program Jaga Warga di Sleman kerap dipandang sebagai model pengamanan sosial berbasis komunitas. Dengan mengedepankan pencegahan, dialog, dan gotong royong, pendekatan ini dinilai mampu menjaga harmoni tanpa harus selalu mengedepankan tindakan represif.
“Mari kita jadikan Jaga Warga sebagai kekuatan moral dan sosial yang menjaga harmoni. Tidak hanya di Sleman, tetapi juga menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia,” pungkasnya.