Ruang Bangsa - ADA kalimat yang patut menjadi catatan yang dilontarkan Airlangga Hartarto saat terpilih secara aklamasi kembali sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI) periode ketiga 2026-2030 pada Musyawarah Nasional (Munas) VIII/2026 di Hotel Aloft AKR Tower Jakarta,10 Februari 2026 lalu.
Pengakuan bahwa prestasi yang dicapai wushu Indonesia selama ini tidak terlepas dari kolaborasi PB WI dengan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Itu sebagai pertanda bahwa Airlangga Hartarto tidak pernah melupakan peran Kemenpora.
Sejak menjabat Ketua Umum PB WI periode 2017-2021 menggantikan posisi Master Supandi Kusuma, Airlangga Hartarto telah menunjukkan komitmennya dalam membangun prestas wushu Indonesia.
Di multi event pertama yakni Asian Games Jakarta 2018, wushu Indonesia berhasil menyumbangkan 1 medali emas, 1 perak, dan 2 perunggu. Saat itu, wushu telah masuk dalam daftar 11 cabang olahraga penyumbang 31 medali emas bagi Kontingan Indonesia yang untuk pertama kali mencatat sejarah berada di peringkat empat perolehan medali pada Asian Games. Hasil ini lebih baik dari Asian Games Incheon 2014 dimana wushu hanya meraih 1 medali perak dan 1 perunggu.
Pada SEA Games ke-30 Manila 2019, wushu mampu mempertahankan tradisi medali emas dengan menyumbangkan 2 medali emas, 5 perak dan 2 perunggu bagi Kontingen Indonesia.
Pada tahun 2020 dimana Covid-19 melanda dunia dimana pemerintah mengeluarkan larangan kegiatan yang mengumpulkan massa, PB WI menjadi satu-satunya induk organisasi yang tetap menjalankan program dengan menggelar Kejuaraan Nasional (Kejurnas) wushu secara virtual.
Dengan komitmen dan adanya kebijakan Kemenpora memasukkan wushu dalam 14 cabang olahraga Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) lewat Peraturan Presiden No 86 Tahun 2021 yang lahir pada era Menpora Zainudin Amali, prestasi wushu Indonesia semakin kinclong.
Pada SEA Games ke-31 Vietnam 2021, wushu Indonesia bukan hanya mempertahankan sebagai cabor rutin pemasok medali emas tetapi berhasil meningkatkannya menjadi 3 medali emas, 9 perak, dan 3 perunggu.
Di ajang event junior, PB WI yang menjalankan program pelatnas tidak terputus mampu mencetak sejarah untuk pertama kali meraih 10 emas, 2 perak, dan 10 perunggu dan menempati peringkat ketiga pada Kejuaraan Dunia Wushu Junior di BSD Tangerang 2022.
Pada Asian Games Hangzhou 2022 (yang digelar September 2023), wushu Indonesia kembali mempertahankan tradisi medali emas. Dengan perolehan 1 medali emas, 2 perak, dan 2 perunggu itu menjadikan wushu masuk dalam daftar 7 cabor yang memasok medali emas bagi kontingen Merah Putih. Enam cabor lain yang menyumbang emas yakni balap sepeda (1), menembak (2), dayung (dragon boat-1), angkat besi (1), dan panjat tebing (1).
Prestasi gemilang berlanjut pada SEA Games ke-32 Kamboja 2023 dengan raihan 6 emas, 6 perak, dan 2 perunggu sekaligus memastikan Indonesia keluar sebagai juara umum. Prestasi ini mengulang sukses yang pernah diraih pada 12 tahun lalu. Saat itu, SEA Games 2011 Jakarta-Palembang, Wushu Indonesia menjadi juara umum dengan meraih 8 emas, 3 perak, dan 3 perunggu.
Tidak hanya itu saja, cabang olahraga wushu juga mencatat sejarah dengan menyumbangkan 4 medali emas dan 3 perak pada kejuaraan The FISU World University Games 2021 Chengdu yang dihelat tahun 2023. Ini merupakan perolehan medali emas pertama bagi Kontingen Indonesia sejak ikut pada pesta olahraga antarmahasiswa se-dunia tersebut.
Pada Kejuaraan Wushu Junior Asia di Jianjian, China Juli 2025, Tim Wushu Junior Indonesia membuat kejutan dengan membawa pulang 12 medali emas, 6 perak, dan 12 perunggu. Prestasi ini berlanjut dengan meraih 1 medali emas, 2 perak, dan 3 perunggu pada Kejuaraan Dunia Wushu 2025 di Brasil, 31 Agustus–7 September 2025.
Prestasi wushu semakin lengkap sebagai andalan Indonesia pada ajang multi event saja tatkala sukses mempertahankan gelar juara umum dengan mengoleksi 5 emas, 3 perak, dan 1 perunggu pada SEA Games ke-33 Thailand.
Sederat prestasi di ajang multi event dan konsistensi wushu Indonesia sebagai penyumbang medali emas pada SEA Games dan Asian Games tersebut tampaknya seperti terlupakan. Kini, wushu tidak lagi masuk dalam daftar 21 cabor unggulan revisi.
Pada era Menpora Zainudin Amali ditetapkan 14 cabor DBON yakni Bulutangkis, Angkat Besi, Panjat Tebing, Panahan, Menembak, Wushu, Karate, Taekwondo, Balap Sepeda, Atletik, Renang, Dayung, Senam Artistik, dan Pencak Silat. Plus tiga cabor industry yakni sepakbola, basket dan bolavoli.
Kemudian Kemenpora melakukan revisi dan penambahan menjadi 21 cabor yakni Atletik, Senam, Aquatic (Renang), Bulutangkis, Angkat Besi, Panjat Tebing, Panahan, Sepak Bola, Menembak, Judo, Tinju, Taekwondo, Balap Sepeda, Voli Pantai (2x2), Bola Basket (3x3), Dayung (Rowing dan Canoe), Tenis, Anggar, Gulat, Pencak Silat (Road to World Stage), dan Equestrian (Berkuda).
Banyak yang bertanya mengapa wushu sebagai cabor penyumbang medali emas tetap pada SEA Games dan Asian Games, tidak masuk dalam daftar 21 cabor unggulan. Tidak sedikit juga yang mempertanyakan terkait kriteria penetapan cabor unggulan yang sebelumnya disebut menggunakan sistem promosi dan degradasi.
Pertanyaan yang muncul itu cukup wajar apalagi PB WI selama ini tidak pernah melupakan dukungan Kemenpora dalam menjaga konsistensi prestasi dan terus Mengibarkan Merah Putih dan Mengumandangkan Lagu Indonesia Raya pada single maupun multi event internasional.
Saat ini, wushu memang belum masuk dalam daftar cabor resmi yang dipertandingkan pada Olimpiade Los Angeles 2028. Namun, wushu telah menembus Youth Oympic Dakar 2026 dan terus berjuang untuk Olimpiade Barisbane 2032. Dan, Airlangga Hartarto yang duduk sebagai Eksekutif Komite Federasi Wushu Internasional (IWUF) punya peran dalam mendorong wushu masuk dalam Youth Olympic Dakar 2026.